Menu Keluarga: Sup Krim Labu Parang 

Ada kalanya anak-anak (terutama Deo) tidak mau makan nasi. Saat-saat begitu saya sukanya menggantikan karbo menjadi kentang, roti atau jagung. Biasanya mereka akan menjadi lebih lahap makan. Kali ini saya berbagi menu makanan kuah sederhana yang dapat disantap sekeluarga.

Menu Keluarga (Dewasa, Balita usia 3,5 tahun & 5 tahun): Sup Krim Labu Parang

Menu MP-ASI bayi 6 bulan: Labu Parang

Bahan:

  • Dada ayam potong kotak (tulangnya untuk bikin kaldu) atau daging giling
  • Labu parang (potong kotak)
  • Stengah bawang bombay (bisa potong halus atau utuh)
  • Bawang putih (geprek)
  • Daun bawang 
  • Kaldu ayam 
  • Garam
  • Merica
  • Tepung maizena (optional)

Cara:

  1. Masukan kaldu ayam, bawang bombay, bawang putih (bawang-bawang dapat ditumis terlebih dahulu dengan mentega) dan labu ke dalam panci. Panaskan hingga labu lunak.
  2. Saat labu lunak ambil sebagian labu untuk MP-ASI bayi. Haluskan. 
  3. Sup dan labu untuk keluarga saya haluskan menggunakan blender. 
  4. Masukan kembali labu yang sudah dihaluskan ke panci. Masukan daging ayam.
  5. Saat daging mulai matang masukkan kacang polong atau buncis atau bahan lain sesuai selera.
  6. Masukan daun bawang.
  7. Larutkan tepung maizena pada air sebelum dimasukan ke dalam sup labu untuk mengentalkan sedikit sup.
  8. Matikan api dan tambahkan garam & merica sesuai selera.

Sup Krim Labu siap dihidangkan dengan roti panggang/kentang/jagung kukus. Bisa ditambahkan parutan keju

Labu Parang untuk MP-ASI dengan tekstur tidak encer

Nyam… Nyam…


Note: menu 4 bintang

1. Karbohidrat: kentang/jagung/roti

2. Protein Hewani: daging ayam

3.Protein Nabati: kacang polong

4. Sayur: labu

Tagged , , , , ,

Cemilan Keluarga: Pangsit Goreng Isi

Semenjak pindah kembali ke ibukota, saya jarang sekali membuat cemilan anak-anak. Pertama masih merasa repot memasak, ke-2 karena memang belum terkumpul energi untuk masak. Namun karena bayi sudah mulai MP-ASI, jadinya termotivASI untuk kembali ke dapur.

Mulai hari ini saya akan berbagi menu-menu masakan atau cemilan yang sederhana untuk sekeluarga. Untuk kali ini boleh laj sekali-kali menu gorengan.

Menu Bayi 6 Bulan : Buah Pir

Menu Cemilan Keluarga: Pangsit goreng isi…. PIR 😀

Bahan:

  • 3 Buah pir (saya pakai pir xiang li)
  • 1 sdm mentega
  • 3 sdt (atau sesuai selera) gula tebu/pasir
  • Kayu manis 
  • Setengah cangkir air
  • Kulit pangsit (bisa buat sendiri namun untuk menghemat waktu,saya gunakan yang sudah jadi)
  • Minyak untuk goreng

Langkah:

  1. Cuci bersih pir, kupas & potong. Untuk bayi saya sisihkan setengah buah pir. Sisanya potong kotak-kotak kecil.
  2. Pir untuk bayi dikukus dengan dandang.

Isian:

  1. Panaskan mentega sampai meleleh.
  2. Masukan pir, gula, kayumanis dan air.
  3. Masak sampai pir menjadi lunak dan air sisa sedikit. 

Pangsit goreng:

  1. Panaskan minyak goreng.
  2. Letakkan 1 sendok isian pada kulit pangsit.
  3. Lipat dan gulung kulit pangsit 
  4. Masukan ke minyak yang sudah dipanaskan.
  5. Goreng sampai berubah warna.
  6. Angkat dan tiriskan
  7. Hidangkan dan siap dimakan 🙂


Untuk Bayi:

Haluskan Pir kukus & berikan kepada bayi 🙂

Kalau buah pir banyak airnya namun masih bertekstur ketika dihaluskan dengan saringan


Enak ya dek :p

Tagged , , , , ,

MP-ASI Perdana Baby Roo

Perasaan baru kemarin lahiran, sekarang bayi sudah 6 bulan. Yang artinya mulai diperkenalkan makan. Tidak ada persiapan khusus dalam mempersiapkan MP-ASI kali ini karena alat-alat makannya sudah ada. Yang jadi tantangannya adalah kali ini mempersiapkan makannya tanpa ada yang membantu mengawasi anak-anak.

Hari pertama MP-ASI juga sebagai hari pertama pagi-pagi mengantarkan abang M ke sekolah. Biasanya naik jemputan, namun karena akhir-akhir ini jemputan sering telat jadinya saya memutuskan untuk mengantarkannya saja.

Menu makan hari ini dimulai dengan alpukat. Kebetulan saya sedang suka sekali membuat jus alpukat dan sedang ada stock yang baru matang jadi sekalian sebagai MP-ASI bayi saja.

MP-ASI WHO 6 Bulan

  • Menu tunggal
  • Frekuensi: 1-2 kali sehari
  • Jumlah: 2-3 sendok makan
  • Tekstur: ketika sendok dimiringkan tidak langsung jatuh

Alpukat dihaluskan dengan saringan & langsung diberikan

Reaksi bayi? Mingkem setelah suapan pertama. Hahaha… Gpp ya dek. Kita coba lagi next time.

Merem-merem pada suapan pertama


Tagged , , ,

Gak Perlu Piknik, Bahagia Itu Mudah

Sering ya mendengar ketika seseorang sedang kurang fokus atau penat dibilang “kurang piknik” atau bahkan disarankan untuk “piknik dulu” dalam artian liburan atau berhenti sejenak dari rutinitasnya. Well, saya salah satu yang dulunya penganut kalimat “harus piknik dulu” alias liburan. Namun lalu saya menyadari satu hal bagaimana kalau saat itu kita sedang tidak bisa “liburan”? Apa lantas kita berlarut-larut dalam kepenatan itu?

Lalu apakah me-time itu penting bagi kehidupan seorang ibu? Bagaimana kalau kondisi membuat ia tidak dapat me-time?

Gak perlu piknik, bahagia itu mudah.

Saya setuju dengan sepenggal kalimat tersebut yang saya baca saat surfing di internet. Ketika kita dapat bersyukur dan meluruskan kembali pikiran. Maka kita tidak perlu menunggu momen “piknik” atau liburan untuk kembali segar dan produktif.

Di rumah bersama 2 orang balita dan 1 bayi saat suami berangkat kerja beberapa minggu menjadi momen melatih diri untuk memperpanjang sumbu kesabaran. Melatih diri untuk selalu menata pikiran karena tidak mungkin saya berhenti sejenak ketika ada bayi yang sedang menangis ingin nyusu atau balita yang memanggil karena lapar ingin makan.

Jangan salah, banyak saat-saatnya saya korslet. Tetapi ketika kita dapat mengontrol pikiran kita dan menyalurkan emosi dengan tepat maka sungguh bahagia itu mudah. 

Lalu bagaimana menghadapi rasa jenuh dan penat dari keseharian? Tidak, saya tidak memberikan tips tetapi hanya sharing yang saya lakukan.

1. Tarik nafas

Fokus pada nafas ketika marah akan meredakan sejenak emosi yang muncul.

2. Ciptakan me-time berkualitas

Tidak perlu ke salon atau jalan-jalan. Sekedar mandi saja bisa menyegarkan. Menulis blog ini juga salah satu me-time saya.

3. Bersosialisasi

Kemana-mana membawa rombongan sirkus itu memerlukan energi yang sangat besar. Namun sesekali perlu untuk membuat diri waras. Sekedar bertukar kabar ketika jemput anak sekolah saja sudah cukup. Sisanya bisa lewat sosial media. Namun skip saja bacaan-bacaan yang penuh amarah atau bikin baper di linimasa. 

4. Turunkan standar

Terkadang kita ingin semua dilakukan dengan sempurna. Mainan harus rapi, lantai harus spotless. Saya mendelegasikan mainan kepada anak-anak. Jadi ketika ada mainan yang tidak pada tempatnya ya wajar saja. Yang penting lantai sudah disapu dan pel serta tempat tidur bersih. Kalau berharap lantai selalu kinclong bisa stress tak berujung (efek rambut rontok paska melahirkan).

3. Tidur yang cukup 

Karena “tidur saat anak-anak tidur” adalah suatu hal yang tidak selalu memungkinkan. Maka saya selalu bilang ke anak-anak ketika saya ngantuk mereka main berdua dulu. Maka akhirnya mereka pun terbiasa ketika saya tertidur bersama bayi siang-siang. Namun harus siap dengan segala konsekuensinya.

4. Makan banyak (dengan gizi seimbang tentunya)

Kadang susah mencari waktu tenang untuk makan. Jadi kadang makan sambil gendong bayi atau bayi di stroller atau swing. 

5. Salurkan emosi

Saluran emosi saya adalah dengan bercerita kepada suami atau berdoa. Bisa juga dengan menangis. Yang terakhir cuci beras. Hahaha… Aneh ya. Tapi itulah cara saya menyalurkan emosi.

6. Bersyukur 

Terdengar sederhana tetapi butuh latihan 🙂 Tetapi masih bisa bernafas saja sudah menjadi alasan kuat untuk bersyukur kan?

Jadi 6 hal tersebut yang biasa saya lakukan. Bukan berarti saya tidak pernah marah-marah ya. Pernah kok… Tetapi dengan melakukan 6 hal tersebut maka berkurang rasa bapernya (kalau bawaan laper sih selalu).

Momen melatih kesabaran. LOL

Tagged , , , ,

Pregnancy Blues 

Kehamilan merupakan suatu momen bahagia bagi setiap pasangan suami isteri. Namun tidak jarang peristiwa tersebut sekaligus menjadi momen yang penuh kekhawatiran terutama bagi wanita yang menjalaninya secara langsung. Selama ini mungkin kita sudah sering mendengar istilah Baby Blues. Depresi yang dialami ibu paska melahirkan. Bila tidak ditangani dengan tepat maka dapat menjadi depresi lanjut yang lebih berat Post Partum Syndrome (PPD).

Setelah melahirkan anak ke-3 saya baru mengetahui istilah Pregnancy Blues. Depresi yang dialami ibu selama kehamilan. Ibu hamil memang rentan terhadap depresi karena faktor perubahan hormon, tetapi biasanya dianggap wajar sehingga tidak ada penanganan secara khusus. Terlebih bila yang mengalami Pregnancy Blues bercerita kepada orang yang tidak mengalami atau tidak paham, bisa-bisa dianggap berlebihan.

Menurut situs Baby Center, Pregnancy Blues dapat dialami ibu hamil karena beberapa faktor diantaranya:

– Memiliki riwayat depresi dalam keluarga.

– Mengalami perubahan drastis atau mendadak dalam kehidupan sehari-hari.

– Merasa kesepian karena jauh dari pasangan ataupun keluarga.

– Mengalami masalah kehamilan seperti mual berlebih.

– Pernah mengalami masalah dalam kehamilan sebelumnya atau keguguran.

– Pernah mengalami kekerasan verbal atau fisik sebelumnya.

Bagaimana cara mengatasinya? Kembali menurut Baby Center, ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain;

– Berusaha untuk santai dan relaks menghadapi kehamilan

– Berkeluh kesah dan bercerita dengan pasangan mengenai kondisi apapun.

– Bentuk kelompok dukungan (support group)

Relaksasi atau meditasi

– Makan sehat

– Olahraga rutin

– Memberikan kesempatan untuk menyenangkan diri sendiri

– Konsultasi atau terapi.

Pada kehamilan ke-4 saya kemarin bisa dikatakan cukup berbekal dalam menghadapi kehamilan. Lagian sudah kehamilan ke-4 lho. Masa sih tidak siap? Tidak mungkin juga mengalami depresi, saya pikir. Ternyata salah besar! Sayapun baru kemudian menyadari hal tersebut setelah lahiran.

Kehamilan ke-4 saya cukup penuh drama. Hamil tidak lama setelah keguguran, hamil bersamaan dengan momen pindahan. Antara senang dan takut. Senang karena diberi kepercayaan kembali untuk hamil. Takut akan kembali keguguran dan takut menjalankan kehamilan jauh dari suami. 

Selang beberapa waktu setelah mengetahui hamil, masih merasa takut karena beberapa kali flek. Saat itu belum kami periksakan ke dokter karena sudah mau pindah. Kami baru memeriksakan kehamilan saat kami sampai di Jakarta. Begitu leganya ketika melihat denyut jantung janin yang berdetak. Pesan dokter adalah berhati-hati karena letak plasenta masih di bawah. 

Bulan berikutnya periksa kehamilan, kondisi sehat dengan posisi plasenta yang mulai bergerak naik. Sudah tidak ada flek. Mual-mual datang saat malam ketika salah makan. Saya percaya diri dan merasa siap menjalankan kehamilan walau harus jauh dari suami.

Masuk trimester 2, muncul kembali flek coklat. Tidak tahan antrean dokter sebelumnya, saya berganti dokter lain. Entah kenapa secara random saya memilih dokter wanita yang sama sekali belum pernah mendengar nama atau track record nya. Saat konsultasi dan USG, flek disebabkan oleh plasenta yang masih stengah menutup jalan lahir.

Saya yang saat itu masih proses menyapih anak ke-2, merasa galau menghadapi kehamilan itu. Apa yang saya alami selalu saya konsultasikan kepada suami. Terus menerus suami menguatkan saya. Pada saat bercerita saya merasa lega. Namun ada saat-saat dimana saya bisa menangis tanpa sebab. Padahal sebelumnya saya tidak merasa sedih, bahkan habis bersenang-senang. 

Flek datang dan pergi. Sampai suatu Sabtu tiba-tiba ada flek cukup banyak sampai ada bongkahan. Saya berusaha tenang langsung mengirimi pesan kepada obsgyn dan beliau menyarankan saya ke RS tempat beliau praktik. Tanpa memperlihatkan rasa panik, saya mengabari suami yang masih di site. Keluar kamar mengabari mama saya dan minta kakak saya untuk mengantarkan ke RS. Saat bersamaan saya juga mengirimkan pesan kepada teman saya yang sekaligus juga doula, @mamakreatips. Beberapa jam diobservasi di ruang bersalin. Tidak ada kontraksi, semua aman. Sayapun kembali pulang.

Puncak drama kehamilan saya adalah ketika saya merasakan tekanan yang besar sehingga membuat saya membawa dua anak dan tas lalu pergi. Entah pergi kemana karena saat itu hanya ingin pergi saja.

Bersyukur saya memiliki suami yang selalu mendukung dan sabar dengan saya. Diberikan teman yang mau menampung keresahan saya serta obsgyn yang selalu dapat menenangkan saya. Kalau dipikir kembali jadi ingin tertawa. Hahahaha… Bagaimana tidak? Drama di siang hari bawa tas dan 2 anak jalan keluar sampai dikejar suami. Sepertinya ada tukang nasi goreng yang menyaksikan drama itu *tutup muka*

Semua pertolongan datang pada waktunya. Baru saja beberapa hari yang lalu saya cerita ke teman-teman Parenting and Breastfeeding Support Group, dan reaksi mereka banyak yang “Wiena bisa nangis dan drama juga?”. Bisa! Padahal sudah menjalankan semua yang disebutkan di atas agar terhindari dari Pregnancy Blues.

Maju mundur menuliskan cerita ini di blog. Malu? Iya, kalau diingat peristiwanya. Namun tidak ada maksud lain dari tulisan ini, saya hanya ingin orang tahu bahwa saat-saat kehamilan dan melahirkan adalah kondisi yang rentan bagi setiap ibu. Seseorang yang terlihat kuat (seperti saya *pede) belum tentu terhindar dari yang namanya Pregnancy Blues atau Baby Blues. Jadi bagi para ayah, calon ayah, keluarga, kerabat dan semuanya, lebih pekalah terhadap seorang ibu hamil dan ibu baru melahirkan. Dan bagi semua ibu dan calon ibu, janganlah berhenti belajar. Berdayakanlah diri untuk mencari informasi dan belajar dari siapapun dan dimanapun. Karena kehamilan dan menjadi ibu itu sesungguhnya memerlukan persiapan.

Salam dari bayi yang murah senyum. Terima kasih ya dek sudah bersabar dengan mama selama di perut. (pic credit @papakun)

Tagged , , , , , ,

Hunting Sekolah

Saat kami pindah kembali ke Jakarta, salah satu kegalauan saya adalah mencari sekolah yang sesuai dengan anak, hati dan tentunya kocek 😅 Usia Mikha yang telah waktunya untuk masuk TK. Tadinya kami juga mempertimbangkan menunda 1 tahun dan bersekolah di rumah, namun anaknya sudah tidak sabar ingin bersekolah. Kami tidak memasukan anak-anak sekolah sejak dini karena banyak pertimbangan salah satunya adalah kematangan usia. Memang sebelumnya mereka sempat bersekolah di kelompok bermain namun itu karena saya yang mengajar 😅

 Sebelumnya kami tinggal bersama dengan orang tua di daerah Muara Karang. Banyak sekali pilihan sekolah yang cukup dekat dengan rumah saat itu. Dari sekolah swasta sampai internasional. Namun jujur saja, tidak ada satupun yang melekat di hati karena rata-rata sekolahnya terlalu menekankan pada akademis. 
Waktu berlalu, belum juga kami menemukan sekolah yang pas. Sampai akhirnya kami diberi rejeki untuk pindah ke daerah Bintaro. Saya sempat naksir sekolah Ibu Kelinci karena cara belajarnya seru dan harganya terjangkau. Namun sayang sekali walau jaraknya tidak terlalu jauh, kami harus melewati jalan yang macet sekali. 

Kami sempat survey ke beberapa sekolah dan mengikuti trial. 

1. Sekolah dengan kurikulum sendiri dan berbahasa inggris.

Trial di sekolah tersebut Mikha cukup excited. Guru-gurunya pun ramah. Kekurangannya adalah space yang sempit karena sekolahnya di perumahan. Ditambah area bermain outdoor nya kecil.

2. Trial di sekolah bermetode Montessori dan bahasa inggris. 

Tadinya saya cukup excited dengan sekolah tersebut. Selain karena ruang kelas yang menarik, karena metodenya montessori. Namun rupanya saat trial sekolah tersebut akademis sekali. Karena Mikha dibilang belum bisa huruf dan angka *langsung illfeel*

3. Sekolah dengan kurikulum 2013 ditambah dengan kurikulum sekolah dan berbahasa Indonesia 

Pertama kali ke sekolah ini memberi kesan ‘wow’ luas sekali outdoor playground nya. Ruang kelasnya berbentuk sentra-sentra sehingga anak-anak belajar dengan sistem moving class. Sempat sedikit ragu karena masuknya dengan tes dan waktu belajarnya panjang. Namun setelah mengikuti tes, ternyata hasilnya untuk melihat cara belajar anak. Anaknya juga pada akhirnya memilih sekolah ini.

5 hari menjalani masa pengenalan, terlihat anaknya enjoy dengan kesehariannya. Sampai-sampai sempat demam pun bilangnya mau berangkat sekolah. Yang saya sukai dari sekolah ini adalah kegiatan-kegiatan yang beragam selain di masing-masing sentra, ada kegiatan paduan suara, renang, menari. Jadi anak tidak hanya duduk mengerjakan worksheet atau berkegiatan di tempat duduk dan bisa terpenuhi motorik kasarnya. Ada juga kegiatan klub yang bisa diikuti, namun itu hanya kegiatan pilihan.

Hari pertama sekolah



Ya, mudah-mudahan anaknya terus menikmati hari-harinya di sekolah. Lumayan ada waktu beberapa jam untuk menghabiskan waktu dengan Deo dan bayi 😊

Tagged , ,

Kartu Bergambar

Halo pembaca setia (terlalu pede), kemajuan yang sangat berarti. Saya dapat membuat postingan 2 hari berturut-turut! 

Masih dalam rangka berusaha membuat kegiatan berdasarkan minat dan perkembangan anak-anak, tentunya dengan persiapan yang seminimal mungkin untuk memperoleh momen bermain yang semaksimal mungkin. Dengan begitu padatnya jadwal keseharian (sok sibuk padahal biasa aja), bila saya ingin mengadakan kegiatan yang sedikit terarah (adult-oriented) maka bahan yang dipergunakan harus dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk balita dan bayi. Maksudnya agar tidak buang-buang waktu mempersiapkan bahan. Jadi pastinya segala peralatan DIY yang terlalu rumit itu sementara dikeluarkan dari list karena saya tidak sanggup mengerjakannya 😀

Target utama stimulasi adalah bayi usia 2,5 bulan. Kegiatan kali ini saya memilih aktivitas yang disukai oleh Deo yaitu; menggambar dan menggabungkannya dengan aktivitas yang disukai Mikha, bermain lego.

Bahan: karton putih (di rumah adanya kuning), kertas warna hitam atau merah, gunting, selotip 

Seru menggambar bentuk masing-masing

Anak-anak diajak membangun bentuk dengan lego lalu menggunakannya sebagai cetakan gambar. 

Latihan menggunting

Setelah digambar, bentuknya digunting lalu ditempelkan pada karton. 

Dan… Ini dia hasilnya! Kartu gambar abstrak 😀

Padahal pilihan warna merah atau hitam tetapi ada yang memaksa pakai oranye

Setelah itu dipakai untuk bermain dengan bayi 😀

Ben fokus dengan kartu yang dipegang Mikha

Manfaat kegiatan:

* untuk bayi: menstimulasi penglihatan

*untuk balita: melatih motorik halus, kreativitas, menyelesaikan masalah, warna, bentuk, bercerita, melatih permainan kolaborasi

Tagged , , ,

Mana Bayangannya? 

Mengasuh 2 balita dan 1 bayi saat suami bekerja dan tanpa asisten rupanya memakan banyak waktu, emosi dan kesabaran. Ketika masih hamil dengan 2 balita masih banyak waktu untuk pekerjaan rumah dan mempersiapkan kegiatan untuk anak-anak dan mendokumentasikannya. Sekarang? Syukur-syukur bisa mandi dengan tenang sekali sehari. Tanpa disadari blog ini pun jadi terbengkalai. Kadang ide-ide muncul saat anak-anak sudah tidur. Namun akhirnya memilih untuk tidur atau bermalas-malasan. 

Tantangan terbesar memang membagi waktu untuk 2 balita dan 1 bayi. Belum lagi pekerjaan rumah yang menanti setiap hari. Akhirnya lebih banyak kegiatan-kegiatan spontan memakai mainan dan peralatan seadanya. Ternyata anak-anak tidak akan bosan kok. Walau setiap hari yang dimainkan adalah benda-benda yang sama, selalu akan ada cerita atau cara main yang berbeda. Memang yang penting adalah keberadaan kita. 

Hari ini saya mencoba mengajak anak-anak berkegiatan bersama-sama. Ya, termasuk bayi 2,5 bulan yang mulai aware akan kondisi sekitar. Satu kegiatan yang disesuaikan dengan perkembangan masing-masing anak. 

Peralatan: Gambar – gambar binatang, benda angkasa, transportasi atau apa saja yang disukai anak (atau yang ingin diperkenalkan) dengan bayangannya. 

Kebetulan saya sempat membeli buku yang berisi gambar dan bayangan sehingga saya hanya mengguntingnya dan menempelnya pada stik es. 

Kegiatan:

Pisahkan gambar dengan bayangannya dan ajak anak mencarinya bersama-sama. Kegiatan dapat diimprovisasi dengan cerita-cerita yang sesuai. Kalau saya tadi bercerita bahwa binatang-binatang sedih kehilangan bayangannya. Lalu ajak mereka untuk bercerita kepada adiknya. Kalau kegiatan kami tadi Mikha bercerita kepada Ben sedangkan Deo bernyanyi menggunakan stik gambar dan bayangan tersebut. 

Manfaat:

1. Untuk bayi: Menstimulasi penglihatan

Bayi seusia Ben penglihatannya belum sempurna. Yang pernah saya baca, mainan atau gambar dengan warna yang kontras dapat menstimulasi penglihatannya. Karena keterbatasan waktu maka saya hanya menggunakan gambar yang ada. Bila memiliki waktu lebih maka bapak/ibu dapat mempersiapkan gambar-gambar yang warnanya lebih kontras (hitam-putih-merah). 

2. Untuk Balita: Menambah kosakata, mengenal warna dan bentuk, mencocokkan, bermain peran dan bercerita. 

– Kosakata Deo memang bertambah banyak sejak usianya menginjak 2 tahun. Namun memang ada kata-kata yang pelafalannya kurang jelas, sehingga kegiatan ini dapat menstimulasi pelafalannya kata-katanya.

 – kegiatan ini juga melatih anak-anak untuk menyelesaikan masalah karena sempat ada momen mereka berebutan stik dan juga berebut untuk bercerita kepada Ben. 

Tagged , , , , ,

Melukis dengan Bola Kapas

Peralatan:
– cat warna
– kapas bulat
– capitan
– kertas

Kegiatan:
Ajak anak untuk melukis di kertas dengan kapas. Kapas diambil dengan capitan.

Tujuan kegiatan:
– melatih motorik halus anak
– mengenal warna
– melatih imajinasi dan kreativitas
– menambah kosakata dan meningkatkan kemampuan bercerita

image

image

Tagged , ,

2 Balita dan 1 Bayi

Sudah hampir 2 bulan sejak tulisan terakhir di blog mikadoproject ini. Setelah kurang lebih hampir 39 minggu, akhirnya saya melahirkan pada tanggal 25 April 2016. Prosesnya cukup lancar dan pemulihan pasca melahirkan berjalan normal.

Welcome to the world Benedict

Walau sudah 2 kali melahirkan sebelumnya. Kali ini suatu pengalaman yang baru karena melahirkan di Jakarta.

Malam sebelumnya masih sempat foto-foto

Semua menginap di rumah sakit

Bagaimana rasanya memiliki 2 balita dan 1 bayi di rumah? Seru! Mikha sedikit cuek namun Deo yang penasaran ingin dekat dengan adik bayinya dan bahkan minta untuk difoto dengan Ben.

Ben usia 1 minggu bersama Deo

Sebulan pertama cukup santai karena suami mendapatkan cuti panjang. Setelah suami kembali ke site dan kamipun kembali memulai rutinitas baru. Sebelum melahirkan sempat rantangan namun saat melahirkan saya berhenti dan belum memulai lagi. Sempat berpikiran untuk masak sendiri dengan pertimbangan menunya akan sesuai dengan selera anak-anak. Namun beberapa hari berjalan setelah suami berangkat, saya merasa keteteran mengatur waktu untuk masak. Yang akhirnya tambah boros karena pesan antar.

Ya, kami sehari-hari ber-4 saja. Kalau ditanya kenapa tidak memakai asisten. Well lebih karena saya merasa risih kalau ada orang lain di rumah. Plus terlalu banyak cerita-cerita cliche tentang asisten rumah tangga. Saya tidak punya energi lebih untuk itu. Dengan segala kemudahan yang disediakan di sekitar rumah, maka saya dapat bilang saya sanggup untuk mengurusi rumah dan juga anak-anak.

Lelah? Pasti. Tidur yang cukup menjadi kunci utamanya. Yang ke-2 adalah menciptakan me time semaksimal mungkin. Tidak sulit untuk membangun rutinitas anak-anak. Hanya perlu konsisten. Terkadang ada rasa malas untuk stick to schedule karena ingin leyeh-leyeh, tetapi hasilnya malah semakin sulit untuk saya mengatur ritme kembali. Yang ada saya malah tidak dapat mengatur emosi dan ujung-ujungnya marah-marah.

Saat ini kami masih up and down dalam menjalani hari-hari kami karena belum sepenuhnya dapat konsisten dalam mengatur waktu dan juga emosi. Namun perjalanan yang sangat seru dan penuh tantangan untuk dijalankan.

image

Jalan ber-4 untuk beli buah

image

Bermain bersama-sama

image

Salam dari kami untuk para pembaca *pede ada yang baca*