Monthly Archives: February 2016

Memulai Lembaran Baru

Tulisan ini adalah sebuah postingan yang telah lama tertunda. Sungguh saat saya menulis tulisan sebelumnya berjudul “Mengejar Passion” tidak terpikir bahwa Tuhan memberikan suatu kesempatan baru untuk belajar tentang kehidupan.

Beberapa minggu berjalan kelompok bermain, berhembus kabar suami lolos tahap-tahap tes dan wawancara di perusahaannya yang baru. Campur aduk perasaan dalam mengambil keputusan yang tidak hanya menentukan hidup sendiri namun juga keberlangsungan kelompok bermain.

Pada akhirnya kabar tersebut menjadi nyata ketika suami saya 100% dinyatakan diterima di perusahaan baru. Bertambahlah kegalauan saya karena harus memutuskan. Begitu banyak kenangan dan workplan yang harus ditinggalkan. Sungguh cukup berat meninggalkan zona nyaman yang telah dilewati selama kurang lebih 4 tahun. Apalagi meninggalkannya di saat saya mulai menemukan ritme dan kegiatan yang berarti bukan hanya untuk diri, tetapi untuk orang lain.

Pada akhirnya kami memilih untuk meninggalkan zona nyaman tersebut dan memulai lembaran baru. Saya di kota kelahiran dan suami bekerja di site. Kami (saya) yakin bahwa Tuhan menginginkan kami untuk ‘naik kelas’ dalam kehidupan karena di saat kami harus meninggalkan zona nyaman kami, kami diberikan kado luar biasa. Ya, 2 garis di testpack ­čÖé

Begitu cepat waktu berlalu. Banyak sekali kekhawatiran dalam diri. Begitu banyak hal yang harus dihadapi saat lembaran baru dimulai. Hamil dengan 2 balita dan berjauhan dengan suami. Saya selalu merasa salut dengan teman-teman yang harus berjauhan dengan suami dan tidak terbayangkan sebelumnya bahwa kami akan berhadapan dengan situasi ini.

Dalam bayangan ideal saya, hidup kami akan selalu bersama di satu kota dan kalau bisa memilih, saya akan memilih untuk tidak berjauhan. Kenyataannya di saat diberikan pilihan untuk tetap pada zona nyaman atau keluar. Saya memilih untuk keluar. Saya memilih untuk menguji kemampuan menjalani hidup. Bukan, bukan karena saya yakin saya sanggup. Tetapi karena saya yakin Tuhan telah menyiapkan saya untuk ‘naik kelas’ dan menjalaninya.

Saat ini sudah beberapa bulan berjalan cerita dalam lembaran-lembaran kami. Sungguh luar biasa rasanya. Menjalankan semua ini dalam keadaan hamil. Di saat sebelumnya independen melakukan segala-galanya dengan suami. Sekarang harus menjalankan semuanya dengan keberadaan orang-orang lain dan tanpa kehadiran suami secara fisik.

Ujian kesabaran, menekan ego dan menjaga kestabilan emosi demi janin dan dua bocah yang enerjik. Tidak, tulisan ini bukan untuk menarik simpati. Ini hanya media untuk ‘nyalem’ (menyalurkan emosi). Kami (saya, suami dan anak-anak) yakin kami akan sanggup untuk melewati ini bersama karena seperti penggalan ayat yang pernah kami cantumkan pada suvenir pernikahan kami

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” –┬á pengkotbah 11:3

image

Advertisements
Tagged , , ,