Monthly Archives: October 2016

Menu Keluarga: Sup Krim Labu Parang 

Ada kalanya anak-anak (terutama Deo) tidak mau makan nasi. Saat-saat begitu saya sukanya menggantikan karbo menjadi kentang, roti atau jagung. Biasanya mereka akan menjadi lebih lahap makan. Kali ini saya berbagi menu makanan kuah sederhana yang dapat disantap sekeluarga.

Menu Keluarga (Dewasa, Balita usia 3,5 tahun & 5 tahun): Sup Krim Labu Parang

Menu MP-ASI bayi 6 bulan: Labu Parang

Bahan:

  • Dada ayam potong kotak (tulangnya untuk bikin kaldu) atau daging giling
  • Labu parang (potong kotak)
  • Stengah bawang bombay (bisa potong halus atau utuh)
  • Bawang putih (geprek)
  • Daun bawang 
  • Kaldu ayam 
  • Garam
  • Merica
  • Tepung maizena (optional)

Cara:

  1. Masukan kaldu ayam, bawang bombay, bawang putih (bawang-bawang dapat ditumis terlebih dahulu dengan mentega) dan labu ke dalam panci. Panaskan hingga labu lunak.
  2. Saat labu lunak ambil sebagian labu untuk MP-ASI bayi. Haluskan. 
  3. Sup dan labu untuk keluarga saya haluskan menggunakan blender. 
  4. Masukan kembali labu yang sudah dihaluskan ke panci. Masukan daging ayam.
  5. Saat daging mulai matang masukkan kacang polong atau buncis atau bahan lain sesuai selera.
  6. Masukan daun bawang.
  7. Larutkan tepung maizena pada air sebelum dimasukan ke dalam sup labu untuk mengentalkan sedikit sup.
  8. Matikan api dan tambahkan garam & merica sesuai selera.

Sup Krim Labu siap dihidangkan dengan roti panggang/kentang/jagung kukus. Bisa ditambahkan parutan keju

Labu Parang untuk MP-ASI dengan tekstur tidak encer

Nyam… Nyam…


Note: menu 4 bintang

1. Karbohidrat: kentang/jagung/roti

2. Protein Hewani: daging ayam

3.Protein Nabati: kacang polong

4. Sayur: labu

Advertisements
Tagged , , , , ,

Cemilan Keluarga: Pangsit Goreng Isi

Semenjak pindah kembali ke ibukota, saya jarang sekali membuat cemilan anak-anak. Pertama masih merasa repot memasak, ke-2 karena memang belum terkumpul energi untuk masak. Namun karena bayi sudah mulai MP-ASI, jadinya termotivASI untuk kembali ke dapur.

Mulai hari ini saya akan berbagi menu-menu masakan atau cemilan yang sederhana untuk sekeluarga. Untuk kali ini boleh laj sekali-kali menu gorengan.

Menu Bayi 6 Bulan : Buah Pir

Menu Cemilan Keluarga: Pangsit goreng isi…. PIR 😀

Bahan:

  • 3 Buah pir (saya pakai pir xiang li)
  • 1 sdm mentega
  • 3 sdt (atau sesuai selera) gula tebu/pasir
  • Kayu manis 
  • Setengah cangkir air
  • Kulit pangsit (bisa buat sendiri namun untuk menghemat waktu,saya gunakan yang sudah jadi)
  • Minyak untuk goreng

Langkah:

  1. Cuci bersih pir, kupas & potong. Untuk bayi saya sisihkan setengah buah pir. Sisanya potong kotak-kotak kecil.
  2. Pir untuk bayi dikukus dengan dandang.

Isian:

  1. Panaskan mentega sampai meleleh.
  2. Masukan pir, gula, kayumanis dan air.
  3. Masak sampai pir menjadi lunak dan air sisa sedikit. 

Pangsit goreng:

  1. Panaskan minyak goreng.
  2. Letakkan 1 sendok isian pada kulit pangsit.
  3. Lipat dan gulung kulit pangsit 
  4. Masukan ke minyak yang sudah dipanaskan.
  5. Goreng sampai berubah warna.
  6. Angkat dan tiriskan
  7. Hidangkan dan siap dimakan 🙂


Untuk Bayi:

Haluskan Pir kukus & berikan kepada bayi 🙂

Kalau buah pir banyak airnya namun masih bertekstur ketika dihaluskan dengan saringan


Enak ya dek :p

Tagged , , , , ,

MP-ASI Perdana Baby Roo

Perasaan baru kemarin lahiran, sekarang bayi sudah 6 bulan. Yang artinya mulai diperkenalkan makan. Tidak ada persiapan khusus dalam mempersiapkan MP-ASI kali ini karena alat-alat makannya sudah ada. Yang jadi tantangannya adalah kali ini mempersiapkan makannya tanpa ada yang membantu mengawasi anak-anak.

Hari pertama MP-ASI juga sebagai hari pertama pagi-pagi mengantarkan abang M ke sekolah. Biasanya naik jemputan, namun karena akhir-akhir ini jemputan sering telat jadinya saya memutuskan untuk mengantarkannya saja.

Menu makan hari ini dimulai dengan alpukat. Kebetulan saya sedang suka sekali membuat jus alpukat dan sedang ada stock yang baru matang jadi sekalian sebagai MP-ASI bayi saja.

MP-ASI WHO 6 Bulan

  • Menu tunggal
  • Frekuensi: 1-2 kali sehari
  • Jumlah: 2-3 sendok makan
  • Tekstur: ketika sendok dimiringkan tidak langsung jatuh

Alpukat dihaluskan dengan saringan & langsung diberikan

Reaksi bayi? Mingkem setelah suapan pertama. Hahaha… Gpp ya dek. Kita coba lagi next time.

Merem-merem pada suapan pertama


Tagged , , ,

Gak Perlu Piknik, Bahagia Itu Mudah

Sering ya mendengar ketika seseorang sedang kurang fokus atau penat dibilang “kurang piknik” atau bahkan disarankan untuk “piknik dulu” dalam artian liburan atau berhenti sejenak dari rutinitasnya. Well, saya salah satu yang dulunya penganut kalimat “harus piknik dulu” alias liburan. Namun lalu saya menyadari satu hal bagaimana kalau saat itu kita sedang tidak bisa “liburan”? Apa lantas kita berlarut-larut dalam kepenatan itu?

Lalu apakah me-time itu penting bagi kehidupan seorang ibu? Bagaimana kalau kondisi membuat ia tidak dapat me-time?

Gak perlu piknik, bahagia itu mudah.

Saya setuju dengan sepenggal kalimat tersebut yang saya baca saat surfing di internet. Ketika kita dapat bersyukur dan meluruskan kembali pikiran. Maka kita tidak perlu menunggu momen “piknik” atau liburan untuk kembali segar dan produktif.

Di rumah bersama 2 orang balita dan 1 bayi saat suami berangkat kerja beberapa minggu menjadi momen melatih diri untuk memperpanjang sumbu kesabaran. Melatih diri untuk selalu menata pikiran karena tidak mungkin saya berhenti sejenak ketika ada bayi yang sedang menangis ingin nyusu atau balita yang memanggil karena lapar ingin makan.

Jangan salah, banyak saat-saatnya saya korslet. Tetapi ketika kita dapat mengontrol pikiran kita dan menyalurkan emosi dengan tepat maka sungguh bahagia itu mudah. 

Lalu bagaimana menghadapi rasa jenuh dan penat dari keseharian? Tidak, saya tidak memberikan tips tetapi hanya sharing yang saya lakukan.

1. Tarik nafas

Fokus pada nafas ketika marah akan meredakan sejenak emosi yang muncul.

2. Ciptakan me-time berkualitas

Tidak perlu ke salon atau jalan-jalan. Sekedar mandi saja bisa menyegarkan. Menulis blog ini juga salah satu me-time saya.

3. Bersosialisasi

Kemana-mana membawa rombongan sirkus itu memerlukan energi yang sangat besar. Namun sesekali perlu untuk membuat diri waras. Sekedar bertukar kabar ketika jemput anak sekolah saja sudah cukup. Sisanya bisa lewat sosial media. Namun skip saja bacaan-bacaan yang penuh amarah atau bikin baper di linimasa. 

4. Turunkan standar

Terkadang kita ingin semua dilakukan dengan sempurna. Mainan harus rapi, lantai harus spotless. Saya mendelegasikan mainan kepada anak-anak. Jadi ketika ada mainan yang tidak pada tempatnya ya wajar saja. Yang penting lantai sudah disapu dan pel serta tempat tidur bersih. Kalau berharap lantai selalu kinclong bisa stress tak berujung (efek rambut rontok paska melahirkan).

3. Tidur yang cukup 

Karena “tidur saat anak-anak tidur” adalah suatu hal yang tidak selalu memungkinkan. Maka saya selalu bilang ke anak-anak ketika saya ngantuk mereka main berdua dulu. Maka akhirnya mereka pun terbiasa ketika saya tertidur bersama bayi siang-siang. Namun harus siap dengan segala konsekuensinya.

4. Makan banyak (dengan gizi seimbang tentunya)

Kadang susah mencari waktu tenang untuk makan. Jadi kadang makan sambil gendong bayi atau bayi di stroller atau swing. 

5. Salurkan emosi

Saluran emosi saya adalah dengan bercerita kepada suami atau berdoa. Bisa juga dengan menangis. Yang terakhir cuci beras. Hahaha… Aneh ya. Tapi itulah cara saya menyalurkan emosi.

6. Bersyukur 

Terdengar sederhana tetapi butuh latihan 🙂 Tetapi masih bisa bernafas saja sudah menjadi alasan kuat untuk bersyukur kan?

Jadi 6 hal tersebut yang biasa saya lakukan. Bukan berarti saya tidak pernah marah-marah ya. Pernah kok… Tetapi dengan melakukan 6 hal tersebut maka berkurang rasa bapernya (kalau bawaan laper sih selalu).

Momen melatih kesabaran. LOL

Tagged , , , ,