Belajar Calistung

Eits… Kok belajar calistung? Katanya tidak boleh mengajarkan calistung? Boleh aja kok selama tidak dipaksakan. Lagipula setiap stimulasi yang diberikan kepada anak bisa jadi merupakan dasar dari pembelajaran membaca, menulis dan berhitung (calistung) nantinya. Tentunya perkembangan anak itu tidak serta merta hanya calistung. Entah kenapa banyak yang menilai perkembangan anak pada sisi akademis saja. Padahal banyak sekali aspek lain yang jauh lebih penting untuk anak. Mungkin karena calistung dapat dinilai ya? (edisi sok tau).

Proses belajar calistung diawali dengan konsep dasar calistung itu sendiri. Pada tulisan ini saya hanya ingin berbagi pengalaman yang kami terapkan untuk anak-anak di rumah.

Membaca
Awal perkenalan membaca adalah dengan memperkenalkan buku kepada anak-anak. Membaca disini bukan langsung membaca atau menghafal huruf ya. Proses membaca yang kami terapkan pada anak-anak awalnya adalah mengenalkan buku bergambar kepada anak. Buku yang kami kenalkan memiliki kata-kata atau kalimat yang seminimal mungkin (atau kadang hanya ada gambar saja). Lalu kami juga memperkenalkan simbol-simbol yang kami temukan pada keseharian kami. Dari aktivitas tersebut anak juga dapat belajar mengenal warna. Saat ini anak pertama kami (30 bulan) masih pada tahap perkenalan kata-kata melalui gambar dan memperkenalkan kata-kata dengan awalan yang sama (contoh: mama… makan… monyet). Sesekali ia diperkenalkan huruf-huruf alfabet sambil bermain. Seperti aktivitas bermain huruf magnet berikut ini:

image

image

image
Menyusun huruf secara acak.

Menulis
Kalau boleh jujur sampai saat ini anak pertama kami belum terlalu berminat dalam kegiatan ini. Tetapi bukan berarti ia tidak di stimulasi. Kami yakin pada saat ia siap untuk menulis (memegang alat tulis), maka ia akan bisa (kapanpun itu). Untuk saat ini yang kami lakukan adalah melatih motoriknya agar siap untuk menulis. Aktivitas motorik halus yang ia sukai saat ini adalah bermain playdough.

image

Berhitung
Sampai saat ini kami belum terlalu memperkenalkan angka kepada anak-anak. Yang kami perkenalkan adalah berhitung dengan benda melalui permainan atau aktivitas sehari-hari. Kami pun yakin berhitung itu bukan sekedar menyebutkan angka karena anak perlu mengerti konsep dasar berhitung itu sendiri. Setiap angka yang ia ucapkan mewakili satu benda. Jadi setiap kali kami berhitung, kami akan menunjuk pada benda atau dengan menggunakan jari. Dan dapat kami simpulkan Mikha baru sampai tahap menyebut angka. Sedangkan untuk berhitung itu sendiri (berhitung dengan menunjuk benda yang dihitung) baru sampai 3 atau 4, karena setelah itu ia akan menunjuk secara random. Kalau menyebut angka sudah lulus lah angka wajib (1-10). Hehe… Aktivitas berhitung ini sering diselipkan di setiap kegiatan yang kami lakukan antara lain: saat bermain mobil-mobilan kami menghitung banyak mobilnya, rodanya dan lain sebagainya.

image

Seperti itulah cara kami belajar calistung. Semua aktivitas merupakan hands-on atau yang dapat dipegang anak. Jadi amat jarang (bahkan tidak pernah) melakukan aktivitas worksheet, karena kami yakin usia anak-anak kami sekarang lebih mudah belajar melalui aktivitas yang melibatkan seluruh panca inderanya.

Advertisements

Saat Anak Bermain Independen

Ada saatnya dimana kami bosan dengan kegiatan yang terstruktur (baca: saya lagi malas menyiapkan bahan atau kegiatan), yang saya lakukan adalah membiarkan anak beraktivitas dengan kegiatan pilihannya dan mengarahkan mereka ke kegiatan independen. Pada saat itulah saya dapat lebih fokus mengobservasi apa yang sedang diminati anak-anak. Bonusnya waktu santai yang lebih panjang. Hehe…

Dari 3 hari observasi yang kami lakukan terlihat bahwa kegiatan favorit anak-anak masih seputar mainan yang memiliki roda dan yang baru adalah tutup botol πŸ™‚ Dalam waktu tersebut pula terlihat semakin terbiasa kakak-adik ini bermain bersama, serta semakin besar kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah karena saling berebut mainan. Sayapun lebih banyak hanya mengamati dan “nimbrung” ketika diajak (karena beberapa kali Mikha minta saya duduk saja).

image

image

image

image

Jadi meskipun terlihat hanya bermain-main, tetap ada yang dapat dipelajari ya. Dari hasil beberapa hari observasi diharapkan kegiatan-kegiatan selanjutnya lebih fokus lagi terhadap minat dan ketertarikan anak.

Art Box

Di tulisan sebelumnya saya sempat mengatakan bila kami berusaha memperkenalkan aktivitas yang tidak terlalu dilirik Mikha. Ya, memang Mikha sampai saat ini belum terlalu tertarik pada alat-alat tulis. Padahal selalu kami sediakan di area bermain anak-anak. Tanpa memaksa mengharuskan Mikha menggunakan alat tulis, maka saya sediakan kotak yang berisi beberapa alat tulis dan alat prakarya. Kami sebut kotak tersebut sebagai “Art Box”.

image
Gunting, spidol, lem, kertas, pom pom, kancing dan playdough.
image
Semua dimasukkan ke dalam kotak.

Dengan memberikan kegiatan “Art Box” ini maka anak diberikan kebebasan untuk memilih apa yang ia ingin lakukan.

image
Seru membuka dan mengeluarkan isinya.
image
Kegiatan pertama yang dipilih adalah menggunting.
image
Sempat menempel pompom dan menggambar tetapi kembali lagi ke gunting.
image
Katanya "cake adek Deo"

Tanpa arahan apapun saya hanya membiarkan Mikha memilih dan bermain sendiri. Saya hanya mengawasi pada saat ia menggunakan gunting saja πŸ™‚

Yang dapat dipelajari/distimulasi :
– Inisiatif
– Kreativitas
– motorik halus, koordinasi tangan dan mata
– bahasa

Jangan Bosan Memperkenalkan Aktivitas Baru Kepada Anak

Sewaktu saya mengajar di early childhood education program dulu, seringkali orang tua bercerita bahwa yang dimainkan anaknya “itu-itu” saja. Well memang anak kecil itu ketika menemukan suatu benda atau permainan yang ia suka maka ia akan selalu kembali pada benda atau permainan tersebut sampai ia merasa ada hal/benda lain yang menarik baginya.

Lalu apakah lantas kita selalu mengikuti minatnya saja? Apakah kami sebagai orang tua menganggap minat anak sekarang akan menjadi bakat bila diasah? Kedua anak kami masih berusia 30 bulan dan 12 bulan (hampir). Kegemarannya dalam bermain mobil-mobilan tidak kami anggap sebagai bakat dalam bidang otomotif nantinya, atau kesukaannya bermain bola tidak berarti bakatnya nanti sebagai pemain bola atau aksi panjat yang kerap kali membuat kami jantungan membuat kami menyimpulkan bakatnya adalah atlit panjat. Ya, memang masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan karena usia mereka yang masih 30 bulan & 12 bulan belum terekspos dengan berbagai macam kegiatan.

Lalu bagaimana agar anak terekspos dan terstimulasi di bidang lain ketika apa yang ia mainkan hanya “itu-itu” saja? Sebagai orang tua harus cermat mengamati (ini kami pun masih tahap pembelajaran), kreatif dan pintar-pintar cari cara mengembangkan permainan anak (terima kasih dunia maya). Saya sempat menulis tentang “Mengembangkan Permainan Anak” di blog ini. Kurang lebih tulisan ini melanjutkan topik yang pernah saya share pada tulisan tersebut.

Sebagai contoh, ada 2 mainan yang disukai oleh Mikha. Mobil-mobilan dan bola. Terlihat sekali ketika ia bermain dengan bola atau mobil-mobilan, ia akan mampu bertahan cukup lama dan bermain independen dengan dua benda tersebut.

Banyak sekali permainan yang dapat dikembangkan dengan menggunakan mainan mobil-mobilan. Kami cukup sering bermain dengan tema “mobil-mobilan” dan sering pula menyelipkan mainan mobil pada saat memperkenalkan aktivitas baru. Kegiatan yang pernah kami lakukan, antara lain pernah saya tulis di blog ini seperti:

Satu-satu
Earth Week: Mobil Kardus
Kancing Besar, Sedang dan Kecil
Mobilnya Masuk Bengkel
Sensory Play: Bermain Salju
Brr… Dingin

Begitu pula dengan aktivitas menggunakan bola. Ketika mendengar kata “bola” maka yang terlintas dalam pikiran pasti kegiatan yang berhubungan dengan motorik kasar. Namun sebenarnya bola dapat juga digunakan untuk kegiatan yang lebih “kalem”. Beberapa kegiatan yang pernah kami lakukan dengan menggunakan bola antara lain:

Main Air Yuk
Membuat Bola Kertas
Sensory Play: Bola Merah, Bola Hijau
Mana Bolanya Ya?

Ada pula kegiatan yang kami lakukan hasil penggabungan dari dua mainan favorit anak-anak. Sebelumnya Mikha sempat minta ijin untuk bermain dengan kelereng dan tidak disangka ia memanfaatkan kotak baju (yang sudah beberapa minggu belum dibereskan *keplak diri*) dan menggelindingkan kelerengnya di tutup boks baju tersebut. Sayapun akhirnya mengembangkan permainannya dengan menambahkan beberapa atribut untuk bermain.

Bahan:

image
"gawang" dari kotak bekas, mobil-mobilan, bola kecil (atau kelereng), dan tentunya di atas tutup boks seperti di gambar.

Kegiatan:
Karena awalnya ini merupakan kegiatan anak, maka Mikha pun langsung saja seru bermain sendiri πŸ˜€

image
Lama-lama sadar kalau menyentil (apa bahasanya ya?) atau mendorong kelerengnya tidak boleh terlalu keras atau terlalu pelan.
image
Berinisiatif mengambil mobil-mobilan lain dan melanjutkan pretend play
image
Adek bangun dan ikutan eksplorasi (mengacak-acak)
image
Kesempatan untuk berkolaborasi dalam bermain (dalam hal ini abang menuntun adek).

Yang dapat dipelajari:
– Motorik halus: mengatur kekuatan tangan dan jari.
– Bahasa: kosakata, bercerita
– Warna, berhitung
– Bermain bersama (collaborative play).
– Menstimulasi inisiatif dan kreatifitas anak.
– Bermain secara independen.

Kami juga saat ini sedang tahap mengenalkan sebanyak-banyak aktivitas kepada kedua anak kami. Termasuk aktivitas yang menggunakan alat tulis yang belum terlalu dilirik oleh Mikha karena minatnya masih dominan di kegiatan motorik kasar, musik dan mobil-mobilan.

Jadi, jangan pernah bosan untuk mengajak anak mencoba aktivitas-aktivitas yang beragam ya πŸ™‚

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan pengalaman selama mengajar dan diterapkan bagi kedua anak kami yang ternyata cukup efektif untuk keseharian kami.

Kegiatan “Adult-Interest VS Child-Interest”

Banyak sekali sumber ide kegiatan yang dapat dilakukan bersama anak di internet ataupun di media sosial. Terkadang saking banyak dan menariknya permainan-permainan yang ada jadi pengen melakukan semuanya dengan anak. Lalu bagaimana kami memilah-milah ide kegiatan yang kami temukan untuk dilakukan bersama anak-anak? Berikut ini yang kami terapkan untuk anak-anak kami.

1. Meminimalkan kegiatan yang bersifat adult-interest (berdasarkan keinginan orang dewasa).

2. Lakukan kegiatan berdasarkan child-interest (yang disukai anak). Cara mengetahui minat anak adalah dengan bermain bersama dan mengobservasi kegemaran anak. Ikuti alur permainan anak dan sesekali kembangkan permainannya dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan terbuka (open-ended questions).

3. Pilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.

4. Yang paling penting, utamakan proses permainan/kegiatannya bukan hasilnya.

Kegiatan berdasarkan “Adult-Interest”
Mayoritas kegiatan di blog memang berdasarkan kegemaran anak-anak. Ada kalanya saya ingin memperkenalkan suatu kegiatan baru (agar tidak monoton) atau saya ingin memperkenalkan kosakata-kosakata baru sehingga kami melakukan kegiatan di luar kegemaran anak-anak (Mikha khususnya). Salah satu kegiatan adult-interest seperti aktivitas “Mana Anaknya?” berikut ini.

Aktivitas mencocokan binatang dewasa dengan anak-anaknya ini memang berdasarkan keinginan saya untuk memperkenalkan jenis-jenis binatang (dan anaknya) kepada Mikha.

image
Gambar anak binatang ditempelkan pada gelas plastik, binatang dewasa ditempelkan pada sedotan.
image
Ajak anak untuk mencocokan gambarnya.

Dari kegiatan ini anak dapat mempelajari:
– Bahasa: kosakata, bercerita
– mencocokan, memasangkan
– stimulasi motorik halus

Kegiatan Berdasarkan “Child-Interest”
Nah, kalau aktivitas berikut benar-benar berdasarkan minat anak. Kami pernah melakukan kegiatan “Pancing Ikannya!” dan anak-anak senang betul. Kali ini kami melakukan kegiatan pancing lagi, namun yang dipancing bukan ikan melainkan huruf-huruf magnet.

image
Huruf magnet, pancingan bermagnet
image
Sambil memancing, sambil memperkenalkan huruf

Yang dapat dipelajari dari kegiatan ini:
– Mengenal huruf
– Mengenal warna
– kosakata, bercerita
– berhitung
– stimulasi motorik

Jadi begitulah kira-kira kegiatan kami sehari-hari. Kegiatan yang bersifat “adult-interest” biasanya hanya berlangsung 5 sampai 10 menit (bila anaknya tertarik bisa diperpanjang lebih lama) dan kegiatan yang bersifat “child-interest” bisa berlangsung 15-20 menit lalu dilanjut dengan bermain secara independen (bisa sampai 1 jam). Jadi memang terlihat bila kita melakukan kegiatan yang berdasarkan kegemaran anak maka rentang waktu bermainnya bisa lama bahkan sampai ditinggal sendiri juga bisa πŸ™‚

Bermain Puzzle Balok

Masih banyak kotak bekas di rumah dan sayang bila dibuang. Lagi tidak ada ide mau diapakan dengan bocah-bocah, sempat melihat foto anak teman bermain puzzle lalu muncul ide membuat puzzle balok menggunakan kotak-kotak bekas tersebut.

Bahan:
– kotak bekas yang dipotong sesuai dengan keinginan
flashcard bergambar (bisa juga digambar sendiri)

image
Depan belakang gambarnya berbeda

Kegiatan:
Sesuai dengan judul tulisan ini, kami bermain puzzle.

image
Seru menyusun puzzle.
image
Mencoba menyusun dengan ditumpuk

Yang dapat dipelajari:
problem solving (menyelesaikan masalah)
– bahasa: kosakata, bercerita

Parkiran Mobil

Mobil-mobilan, mainan favorit yang tidak pernah bosan dimainkan dan selalu dibawa ketika bepergian (termasuk ketika ke luar kota). Asiknya bermain dengan mobil-mobilan adalah setiap permainannya dapat dikembangkan menjadi lebih dari sekedar main mobil-mobilan. Seperti permainan kali ini yang kami lakukan. Masih ingat dengan kardus bekas yang kami gunakan untuk bermain bola? Kami memanfaatkannya sebagai lahan parkir untuk mobil-mobilan.

Bahan:

image
Kardus bekas dan mobil-mobilan dengan ukuran sesuai dengan 'area parkir' di kardus

Kegiatan:
Ajak anak untuk menyusun mobil-mobilan yang tersedia pada ‘area parkir’

image
Susun mobilnya satu-satu

image

Saya sempat memodifikasi ‘area parkir’ agar dapat ditambahkan mainan lain.

image

Sebagai catatan, aktivitas yang ada di blog ini rata-rata kami lakukan berulang kali. Hanya saja setiap permainan dikembangkan sesuai dengan minat/kegemaran anak saat itu. Jadi jangan pernah bosan jika anak memainkan mainan itu-itu saja. Hanya butuh dikembangkan saja kok πŸ™‚

image
Pesawat, kereta dan truk pun ikutan parkir
image
Buat adek, kardusnya jadi untuk stimulasi berdiri dan jalan ya. Hehe...

Yang dapat dipelajari:
– Bahasa: kosakata, bercerita
Pretend play, permainan kolaborasi
– Berhitung, pengelompokan, warna

Sensory Play: Es Batu & Biskuit

Kali ini kembali mendapatkan waktu one-on-one dengan Deo karena pas abangnya sedang tidur siang. Sebenarnya kadang bingung untuk mencari aktifitas yang bertema atau yang sesuai dengan minat Deo, karena memang bayi seusianya masih dominan gerakan motoriknya dan masih tahap eksplorasi. Namun tidak menyurutkan semangat untuk menstimulasi yang seminggu lagi akan genap berusia 1 tahun ini.

Akhir-akhir ini, kegemaran Deo adalah menggigit-gigit semua benda yang ia dapatkan (termasuk badan mamanya!) sehingga muncullah ide melakukan kegiatan dengan bahan yang dapat digigit-gigit.
Bahan:

image
Es batu dingin dan biskuit hangat.

Saya sempat menghangatkan biskuit (dengan mengukusnya) agar dapat diselipkan kegiatan memperkenalkan “panas” dan “dingin”.

Kegiatan:
Kami melakukan kegiatan ini di lantai dengan alas yang sudah saya pastikan bersih. Tadinya mau di high chair namun anaknya menolak, jadi melantailah kita πŸ˜€

image
Yang mana dulu ya?
image
Biskuit hangat dan mudah digigit ya dek? πŸ˜€
image
Es batunya dingin dan keras! Tangannya sampai basah.

Kegiatan yang tidak memerlukan persiapan yang banyak dan pastinya mudah untuk dibersihkan (ini yang paling penting. Hehe…).

Yang dipelajari:
– stimulasi panca indera (pengecap, peraba)
– stimulasi motorik: koordinasj tangan
– bahasa: kosakata

Bola Besar, Bola Kecil

Bola menjadi salah satu mainan favorit anak-anak. Jadi tidak mengherankan kami memiliki bola dengan berbagai macam ukuran dan jenis. Jika biasanya kami bermain bola di lapangan, maka kali ini kami memanfaatkan bola-bola tersebut untuk kegiatan di dalam rumah.

Bahan:

image
Berbagai macam bola dengan jenis dan ukuran yang berbeda.

Kegiatan:
Aktifitas ini merupakan aktifitas untuk menstimulasi motorik anak. Ajak anak untuk melempar bola ke dalam kardus dari jarak tertentu. Ajak anak untuk merasakan dan membedakan jenis bola dari segi: ukuran (disini saya hanya memperkenalkan besar dan kecil), bahan, bentuk, dsb. Kira-kira bola yang mana ya yang mudah dilempar?

image
Bola kain kecil dan ringan.
image
Bola pantai besar dan ringan.
image
Bola sepak plastik besar yang keras.
image
Bola karet besar.

Yang dapat dipelajari:
– Bahasa: kosakata, bercerita
– stimulasi motorik, koordinasi tangan.
– warna, pengelompokan, ukuran, bahan.

image
Adek seru mengejar bola.

Permainan “Sticky Tape”

Setelah seminggu lebih blog ini ditinggalkan akhirnya kami kembali dapat melakukan kegiatan di rumah. Sungguh perjalanan yang cukup melelahkan kemarin. Syukurlah anak-anak kembali dengan kondisi sehat (sebelum berangkat sempat pilek).

Hari pertama kembali, kami melakukan kegiatan yang sederhana saja dan tidak memerlukan persiapan yang terlalu banyak (biasanya juga begitu bukan? :p).

image
Plaster yang ditempelkan terbalik pada papan
image
Pompom, pasta dan cotton bud untuk ditempelkan.

Sensasi lengket pada plaster selalu membuat anak-anak penasaran dan ingin bereksplorasi lebih.

image
Adek ikutan eksplorasi
image
Adek mencoba menempelkan pompom

Mikha seru menempel dan mencabut barang-barang dari plaster, sedangkan adek lebih banyak mengacak-acak bahan yang ada. Hehe… Saya juga sempat mengajak Mikha untuk menempelkan material yang ada berdasarkan jenisnya.

image
Menempel berdasarkan jenis

Yang dapat dipelajari
– Bahasa: kosakata, bercerita
– Stimulasi panca indera
– Berhitung, mengelompokkan, warna, bentuk.