Category Archives: Mama Talk

Gak Perlu Piknik, Bahagia Itu Mudah

Sering ya mendengar ketika seseorang sedang kurang fokus atau penat dibilang “kurang piknik” atau bahkan disarankan untuk “piknik dulu” dalam artian liburan atau berhenti sejenak dari rutinitasnya. Well, saya salah satu yang dulunya penganut kalimat “harus piknik dulu” alias liburan. Namun lalu saya menyadari satu hal bagaimana kalau saat itu kita sedang tidak bisa “liburan”? Apa lantas kita berlarut-larut dalam kepenatan itu?

Lalu apakah me-time itu penting bagi kehidupan seorang ibu? Bagaimana kalau kondisi membuat ia tidak dapat me-time?

Gak perlu piknik, bahagia itu mudah.

Saya setuju dengan sepenggal kalimat tersebut yang saya baca saat surfing di internet. Ketika kita dapat bersyukur dan meluruskan kembali pikiran. Maka kita tidak perlu menunggu momen “piknik” atau liburan untuk kembali segar dan produktif.

Di rumah bersama 2 orang balita dan 1 bayi saat suami berangkat kerja beberapa minggu menjadi momen melatih diri untuk memperpanjang sumbu kesabaran. Melatih diri untuk selalu menata pikiran karena tidak mungkin saya berhenti sejenak ketika ada bayi yang sedang menangis ingin nyusu atau balita yang memanggil karena lapar ingin makan.

Jangan salah, banyak saat-saatnya saya korslet. Tetapi ketika kita dapat mengontrol pikiran kita dan menyalurkan emosi dengan tepat maka sungguh bahagia itu mudah. 

Lalu bagaimana menghadapi rasa jenuh dan penat dari keseharian? Tidak, saya tidak memberikan tips tetapi hanya sharing yang saya lakukan.

1. Tarik nafas

Fokus pada nafas ketika marah akan meredakan sejenak emosi yang muncul.

2. Ciptakan me-time berkualitas

Tidak perlu ke salon atau jalan-jalan. Sekedar mandi saja bisa menyegarkan. Menulis blog ini juga salah satu me-time saya.

3. Bersosialisasi

Kemana-mana membawa rombongan sirkus itu memerlukan energi yang sangat besar. Namun sesekali perlu untuk membuat diri waras. Sekedar bertukar kabar ketika jemput anak sekolah saja sudah cukup. Sisanya bisa lewat sosial media. Namun skip saja bacaan-bacaan yang penuh amarah atau bikin baper di linimasa. 

4. Turunkan standar

Terkadang kita ingin semua dilakukan dengan sempurna. Mainan harus rapi, lantai harus spotless. Saya mendelegasikan mainan kepada anak-anak. Jadi ketika ada mainan yang tidak pada tempatnya ya wajar saja. Yang penting lantai sudah disapu dan pel serta tempat tidur bersih. Kalau berharap lantai selalu kinclong bisa stress tak berujung (efek rambut rontok paska melahirkan).

3. Tidur yang cukup 

Karena “tidur saat anak-anak tidur” adalah suatu hal yang tidak selalu memungkinkan. Maka saya selalu bilang ke anak-anak ketika saya ngantuk mereka main berdua dulu. Maka akhirnya mereka pun terbiasa ketika saya tertidur bersama bayi siang-siang. Namun harus siap dengan segala konsekuensinya.

4. Makan banyak (dengan gizi seimbang tentunya)

Kadang susah mencari waktu tenang untuk makan. Jadi kadang makan sambil gendong bayi atau bayi di stroller atau swing. 

5. Salurkan emosi

Saluran emosi saya adalah dengan bercerita kepada suami atau berdoa. Bisa juga dengan menangis. Yang terakhir cuci beras. Hahaha… Aneh ya. Tapi itulah cara saya menyalurkan emosi.

6. Bersyukur 

Terdengar sederhana tetapi butuh latihan ๐Ÿ™‚ Tetapi masih bisa bernafas saja sudah menjadi alasan kuat untuk bersyukur kan?

Jadi 6 hal tersebut yang biasa saya lakukan. Bukan berarti saya tidak pernah marah-marah ya. Pernah kok… Tetapi dengan melakukan 6 hal tersebut maka berkurang rasa bapernya (kalau bawaan laper sih selalu).

Momen melatih kesabaran. LOL

Tagged , , , ,

Pregnancy Bluesย 

Kehamilan merupakan suatu momen bahagia bagi setiap pasangan suami isteri. Namun tidak jarang peristiwa tersebut sekaligus menjadi momen yang penuh kekhawatiran terutama bagi wanita yang menjalaninya secara langsung. Selama ini mungkin kita sudah sering mendengar istilah Baby Blues. Depresi yang dialami ibu paska melahirkan. Bila tidak ditangani dengan tepat maka dapat menjadi depresi lanjut yang lebih berat Post Partum Syndrome (PPD).

Setelah melahirkan anak ke-3 saya baru mengetahui istilah Pregnancy Blues. Depresi yang dialami ibu selama kehamilan. Ibu hamil memang rentan terhadap depresi karena faktor perubahan hormon, tetapi biasanya dianggap wajar sehingga tidak ada penanganan secara khusus. Terlebih bila yang mengalami Pregnancy Blues bercerita kepada orang yang tidak mengalami atau tidak paham, bisa-bisa dianggap berlebihan.

Menurut situs Baby Center, Pregnancy Blues dapat dialami ibu hamil karena beberapa faktor diantaranya:

– Memiliki riwayat depresi dalam keluarga.

– Mengalami perubahan drastis atau mendadak dalam kehidupan sehari-hari.

– Merasa kesepian karena jauh dari pasangan ataupun keluarga.

– Mengalami masalah kehamilan seperti mual berlebih.

– Pernah mengalami masalah dalam kehamilan sebelumnya atau keguguran.

– Pernah mengalami kekerasan verbal atau fisik sebelumnya.

Bagaimana cara mengatasinya? Kembali menurut Baby Center, ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain;

– Berusaha untuk santai dan relaks menghadapi kehamilan

– Berkeluh kesah dan bercerita dengan pasangan mengenai kondisi apapun.

– Bentuk kelompok dukungan (support group)

Relaksasi atau meditasi

– Makan sehat

– Olahraga rutin

– Memberikan kesempatan untuk menyenangkan diri sendiri

– Konsultasi atau terapi.

Pada kehamilan ke-4 saya kemarin bisa dikatakan cukup berbekal dalam menghadapi kehamilan. Lagian sudah kehamilan ke-4 lho. Masa sih tidak siap? Tidak mungkin juga mengalami depresi, saya pikir. Ternyata salah besar! Sayapun baru kemudian menyadari hal tersebut setelah lahiran.

Kehamilan ke-4 saya cukup penuh drama. Hamil tidak lama setelah keguguran, hamil bersamaan dengan momen pindahan. Antara senang dan takut. Senang karena diberi kepercayaan kembali untuk hamil. Takut akan kembali keguguran dan takut menjalankan kehamilan jauh dari suami. 

Selang beberapa waktu setelah mengetahui hamil, masih merasa takut karena beberapa kali flek. Saat itu belum kami periksakan ke dokter karena sudah mau pindah. Kami baru memeriksakan kehamilan saat kami sampai di Jakarta. Begitu leganya ketika melihat denyut jantung janin yang berdetak. Pesan dokter adalah berhati-hati karena letak plasenta masih di bawah. 

Bulan berikutnya periksa kehamilan, kondisi sehat dengan posisi plasenta yang mulai bergerak naik. Sudah tidak ada flek. Mual-mual datang saat malam ketika salah makan. Saya percaya diri dan merasa siap menjalankan kehamilan walau harus jauh dari suami.

Masuk trimester 2, muncul kembali flek coklat. Tidak tahan antrean dokter sebelumnya, saya berganti dokter lain. Entah kenapa secara random saya memilih dokter wanita yang sama sekali belum pernah mendengar nama atau track record nya. Saat konsultasi dan USG, flek disebabkan oleh plasenta yang masih stengah menutup jalan lahir.

Saya yang saat itu masih proses menyapih anak ke-2, merasa galau menghadapi kehamilan itu. Apa yang saya alami selalu saya konsultasikan kepada suami. Terus menerus suami menguatkan saya. Pada saat bercerita saya merasa lega. Namun ada saat-saat dimana saya bisa menangis tanpa sebab. Padahal sebelumnya saya tidak merasa sedih, bahkan habis bersenang-senang. 

Flek datang dan pergi. Sampai suatu Sabtu tiba-tiba ada flek cukup banyak sampai ada bongkahan. Saya berusaha tenang langsung mengirimi pesan kepada obsgyn dan beliau menyarankan saya ke RS tempat beliau praktik. Tanpa memperlihatkan rasa panik, saya mengabari suami yang masih di site. Keluar kamar mengabari mama saya dan minta kakak saya untuk mengantarkan ke RS. Saat bersamaan saya juga mengirimkan pesan kepada teman saya yang sekaligus juga doula, @mamakreatips. Beberapa jam diobservasi di ruang bersalin. Tidak ada kontraksi, semua aman. Sayapun kembali pulang.

Puncak drama kehamilan saya adalah ketika saya merasakan tekanan yang besar sehingga membuat saya membawa dua anak dan tas lalu pergi. Entah pergi kemana karena saat itu hanya ingin pergi saja.

Bersyukur saya memiliki suami yang selalu mendukung dan sabar dengan saya. Diberikan teman yang mau menampung keresahan saya serta obsgyn yang selalu dapat menenangkan saya. Kalau dipikir kembali jadi ingin tertawa. Hahahaha… Bagaimana tidak? Drama di siang hari bawa tas dan 2 anak jalan keluar sampai dikejar suami. Sepertinya ada tukang nasi goreng yang menyaksikan drama itu *tutup muka*

Semua pertolongan datang pada waktunya. Baru saja beberapa hari yang lalu saya cerita ke teman-teman Parenting and Breastfeeding Support Group, dan reaksi mereka banyak yang “Wiena bisa nangis dan drama juga?”. Bisa! Padahal sudah menjalankan semua yang disebutkan di atas agar terhindari dari Pregnancy Blues.

Maju mundur menuliskan cerita ini di blog. Malu? Iya, kalau diingat peristiwanya. Namun tidak ada maksud lain dari tulisan ini, saya hanya ingin orang tahu bahwa saat-saat kehamilan dan melahirkan adalah kondisi yang rentan bagi setiap ibu. Seseorang yang terlihat kuat (seperti saya *pede) belum tentu terhindar dari yang namanya Pregnancy Blues atau Baby Blues. Jadi bagi para ayah, calon ayah, keluarga, kerabat dan semuanya, lebih pekalah terhadap seorang ibu hamil dan ibu baru melahirkan. Dan bagi semua ibu dan calon ibu, janganlah berhenti belajar. Berdayakanlah diri untuk mencari informasi dan belajar dari siapapun dan dimanapun. Karena kehamilan dan menjadi ibu itu sesungguhnya memerlukan persiapan.

Salam dari bayi yang murah senyum. Terima kasih ya dek sudah bersabar dengan mama selama di perut. (pic credit @papakun)

Tagged , , , , , ,

Hunting Sekolah

Saat kami pindah kembali ke Jakarta, salah satu kegalauan saya adalah mencari sekolah yang sesuai dengan anak, hati dan tentunya kocek ๐Ÿ˜… Usia Mikha yang telah waktunya untuk masuk TK. Tadinya kami juga mempertimbangkan menunda 1 tahun dan bersekolah di rumah, namun anaknya sudah tidak sabar ingin bersekolah. Kami tidak memasukan anak-anak sekolah sejak dini karena banyak pertimbangan salah satunya adalah kematangan usia. Memang sebelumnya mereka sempat bersekolah di kelompok bermain namun itu karena saya yang mengajar ๐Ÿ˜…

 Sebelumnya kami tinggal bersama dengan orang tua di daerah Muara Karang. Banyak sekali pilihan sekolah yang cukup dekat dengan rumah saat itu. Dari sekolah swasta sampai internasional. Namun jujur saja, tidak ada satupun yang melekat di hati karena rata-rata sekolahnya terlalu menekankan pada akademis. 
Waktu berlalu, belum juga kami menemukan sekolah yang pas. Sampai akhirnya kami diberi rejeki untuk pindah ke daerah Bintaro. Saya sempat naksir sekolah Ibu Kelinci karena cara belajarnya seru dan harganya terjangkau. Namun sayang sekali walau jaraknya tidak terlalu jauh, kami harus melewati jalan yang macet sekali. 

Kami sempat survey ke beberapa sekolah dan mengikuti trial. 

1. Sekolah dengan kurikulum sendiri dan berbahasa inggris.

Trial di sekolah tersebut Mikha cukup excited. Guru-gurunya pun ramah. Kekurangannya adalah space yang sempit karena sekolahnya di perumahan. Ditambah area bermain outdoor nya kecil.

2. Trial di sekolah bermetode Montessori dan bahasa inggris. 

Tadinya saya cukup excited dengan sekolah tersebut. Selain karena ruang kelas yang menarik, karena metodenya montessori. Namun rupanya saat trial sekolah tersebut akademis sekali. Karena Mikha dibilang belum bisa huruf dan angka *langsung illfeel*

3. Sekolah dengan kurikulum 2013 ditambah dengan kurikulum sekolah dan berbahasa Indonesia 

Pertama kali ke sekolah ini memberi kesan ‘wow’ luas sekali outdoor playground nya. Ruang kelasnya berbentuk sentra-sentra sehingga anak-anak belajar dengan sistem moving class. Sempat sedikit ragu karena masuknya dengan tes dan waktu belajarnya panjang. Namun setelah mengikuti tes, ternyata hasilnya untuk melihat cara belajar anak. Anaknya juga pada akhirnya memilih sekolah ini.

5 hari menjalani masa pengenalan, terlihat anaknya enjoy dengan kesehariannya. Sampai-sampai sempat demam pun bilangnya mau berangkat sekolah. Yang saya sukai dari sekolah ini adalah kegiatan-kegiatan yang beragam selain di masing-masing sentra, ada kegiatan paduan suara, renang, menari. Jadi anak tidak hanya duduk mengerjakan worksheet atau berkegiatan di tempat duduk dan bisa terpenuhi motorik kasarnya. Ada juga kegiatan klub yang bisa diikuti, namun itu hanya kegiatan pilihan.

Hari pertama sekolah



Ya, mudah-mudahan anaknya terus menikmati hari-harinya di sekolah. Lumayan ada waktu beberapa jam untuk menghabiskan waktu dengan Deo dan bayi ๐Ÿ˜Š

Tagged , ,

2 Balita dan 1 Bayi

Sudah hampir 2 bulan sejak tulisan terakhir di blog mikadoproject ini. Setelah kurang lebih hampir 39 minggu, akhirnya saya melahirkan pada tanggal 25 April 2016. Prosesnya cukup lancar dan pemulihan pasca melahirkan berjalan normal.

Welcome to the world Benedict

Walau sudah 2 kali melahirkan sebelumnya. Kali ini suatu pengalaman yang baru karena melahirkan di Jakarta.

Malam sebelumnya masih sempat foto-foto

Semua menginap di rumah sakit

Bagaimana rasanya memiliki 2 balita dan 1 bayi di rumah? Seru! Mikha sedikit cuek namun Deo yang penasaran ingin dekat dengan adik bayinya dan bahkan minta untuk difoto dengan Ben.

Ben usia 1 minggu bersama Deo

Sebulan pertama cukup santai karena suami mendapatkan cuti panjang. Setelah suami kembali ke site dan kamipun kembali memulai rutinitas baru. Sebelum melahirkan sempat rantangan namun saat melahirkan saya berhenti dan belum memulai lagi. Sempat berpikiran untuk masak sendiri dengan pertimbangan menunya akan sesuai dengan selera anak-anak. Namun beberapa hari berjalan setelah suami berangkat, saya merasa keteteran mengatur waktu untuk masak. Yang akhirnya tambah boros karena pesan antar.

Ya, kami sehari-hari ber-4 saja. Kalau ditanya kenapa tidak memakai asisten. Well lebih karena saya merasa risih kalau ada orang lain di rumah. Plus terlalu banyak cerita-cerita cliche tentang asisten rumah tangga. Saya tidak punya energi lebih untuk itu. Dengan segala kemudahan yang disediakan di sekitar rumah, maka saya dapat bilang saya sanggup untuk mengurusi rumah dan juga anak-anak.

Lelah? Pasti. Tidur yang cukup menjadi kunci utamanya. Yang ke-2 adalah menciptakan me time semaksimal mungkin. Tidak sulit untuk membangun rutinitas anak-anak. Hanya perlu konsisten. Terkadang ada rasa malas untuk stick to schedule karena ingin leyeh-leyeh, tetapi hasilnya malah semakin sulit untuk saya mengatur ritme kembali. Yang ada saya malah tidak dapat mengatur emosi dan ujung-ujungnya marah-marah.

Saat ini kami masih up and down dalam menjalani hari-hari kami karena belum sepenuhnya dapat konsisten dalam mengatur waktu dan juga emosi. Namun perjalanan yang sangat seru dan penuh tantangan untuk dijalankan.

image

Jalan ber-4 untuk beli buah

image

Bermain bersama-sama

image

Salam dari kami untuk para pembaca *pede ada yang baca*

Memulai Lembaran Baru

Tulisan ini adalah sebuah postingan yang telah lama tertunda. Sungguh saat saya menulis tulisan sebelumnya berjudul “Mengejar Passion” tidak terpikir bahwa Tuhan memberikan suatu kesempatan baru untuk belajar tentang kehidupan.

Beberapa minggu berjalan kelompok bermain, berhembus kabar suami lolos tahap-tahap tes dan wawancara di perusahaannya yang baru. Campur aduk perasaan dalam mengambil keputusan yang tidak hanya menentukan hidup sendiri namun juga keberlangsungan kelompok bermain.

Pada akhirnya kabar tersebut menjadi nyata ketika suami saya 100% dinyatakan diterima di perusahaan baru. Bertambahlah kegalauan saya karena harus memutuskan. Begitu banyak kenangan dan workplan yang harus ditinggalkan. Sungguh cukup berat meninggalkan zona nyaman yang telah dilewati selama kurang lebih 4 tahun. Apalagi meninggalkannya di saat saya mulai menemukan ritme dan kegiatan yang berarti bukan hanya untuk diri, tetapi untuk orang lain.

Pada akhirnya kami memilih untuk meninggalkan zona nyaman tersebut dan memulai lembaran baru. Saya di kota kelahiran dan suami bekerja di site. Kami (saya) yakin bahwa Tuhan menginginkan kami untuk ‘naik kelas’ dalam kehidupan karena di saat kami harus meninggalkan zona nyaman kami, kami diberikan kado luar biasa. Ya, 2 garis di testpack ๐Ÿ™‚

Begitu cepat waktu berlalu. Banyak sekali kekhawatiran dalam diri. Begitu banyak hal yang harus dihadapi saat lembaran baru dimulai. Hamil dengan 2 balita dan berjauhan dengan suami. Saya selalu merasa salut dengan teman-teman yang harus berjauhan dengan suami dan tidak terbayangkan sebelumnya bahwa kami akan berhadapan dengan situasi ini.

Dalam bayangan ideal saya, hidup kami akan selalu bersama di satu kota dan kalau bisa memilih, saya akan memilih untuk tidak berjauhan. Kenyataannya di saat diberikan pilihan untuk tetap pada zona nyaman atau keluar. Saya memilih untuk keluar. Saya memilih untuk menguji kemampuan menjalani hidup. Bukan, bukan karena saya yakin saya sanggup. Tetapi karena saya yakin Tuhan telah menyiapkan saya untuk ‘naik kelas’ dan menjalaninya.

Saat ini sudah beberapa bulan berjalan cerita dalam lembaran-lembaran kami. Sungguh luar biasa rasanya. Menjalankan semua ini dalam keadaan hamil. Di saat sebelumnya independen melakukan segala-galanya dengan suami. Sekarang harus menjalankan semuanya dengan keberadaan orang-orang lain dan tanpa kehadiran suami secara fisik.

Ujian kesabaran, menekan ego dan menjaga kestabilan emosi demi janin dan dua bocah yang enerjik. Tidak, tulisan ini bukan untuk menarik simpati. Ini hanya media untuk ‘nyalem’ (menyalurkan emosi). Kami (saya, suami dan anak-anak) yakin kami akan sanggup untuk melewati ini bersama karena seperti penggalan ayat yang pernah kami cantumkan pada suvenir pernikahan kami

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” –ย  pengkotbah 11:3

image

Tagged , , ,

Jalan-jalan Bertiga Dengan Balita? Siapa Takut!

Pemandangan ibu berkegiatan di luar rumah membawa bayi atau balita lebih dari satu sendirian adalah hal yang biasa di daerah. Bahkan banyak yang memang sehari-hari ditinggal hanya dengan anak-anak karena suami bertugas. Ditambah lagi meskipun tanpa bantuan asisten (dan suami bertugas) mereka masih bisa aktif berkegiatan di komunitas. Hebat ya… Kalau saya mungkin masih belum sanggup tuh. Pasti stock kesabarannya harus luar biasa ya.

Memang terkadang berpergian ber 3 dengan 2 balita itu bisa cukup merepotkan. Tetapi itulah yang sering kami lakukan. Tantangan terbesar adalah menghadapi 2 anak dengan sifat yang memang berbeda. Di tulisan ini ingin berbagi pengalaman saja agar menikmati bepergian hanya dengan anak-anak. Ok, memang kalau di Sangatta hampir tidak pernah kemana-mana bertigaan. Paling hanya keliling kompleks aja. Nah kalau sekarang di Jakarta ini sering banget pergi-pergi ber 3. Tujuan yang paling sering tidak lain adalah… Mall! Maklum lah ya, kalau di hutan tidak ada mall, jadi mumpung di kota puas-puasin dengan yang namanya mall ๐Ÿ˜€

Persiapan

Apa saja yang selalu kami lakukan/persiapkan sebelum bepergian?
1. Briefing
Sebelum berangkat kemana-mana anak-anak selalu diberi tahu terlebih dahulu. Mau kemana, naik apa, sama siapa dan tujuannya apa. Lalu diingatkan bahwa tidak ada orang lain yang membantu sehingga mereka harus jalan bergandengan tangan atau duduk di stroller.

2. Bawa barang seperlunya
Oke, biasanya kalau pergi ber 3 saja pastinya tidak jauh-jauh dari rumah. Jadi bisa dipastikan barang yang dibawa memang seperlunya seperti: baju ganti anak, tissue basah, tissue, botol minum, snack dan pospak. Semua masuk dalam satu tas dengan barang-barang saya. Make it as light as possible. Lebih nyaman malah tas ransel sehingga bebannya merata ya tidak berat sebelah di pundak.

3. Stroller
Karena tidak mungkin menggendong 2 anak (anak-anak tidak mau pake gendongan pula) maka stroller menjadi keharusan. Oh dan pastinya stroller yang light weight dan mudah dioperasikan dengan satu tangan.

4. Makan kenyang
Nah, sebisa mungkin anak-anak sudah makan berat sebelum berangkat. Jadi di tempat tujuan tidak terlalu repot mengawasi 2 anak makan.

Ketika di tempat tujuan
Oke, ketika sampai di tujuan seringkali kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang telah dibayangkan. Apalagi kalau bepergian saat mendekati jam tidur anak. Lebih heboh lagi ketika keduanya ingin digendong dan tidak mau duduk di stroller. Akhirnya memang harus siap dengan worst case scenario yaitu anak nangis heboh. Ya, siap-siap lah dengan tatapan mata dari segala penjuru. Hihihihi… Tidak jarang lho ketika lagi duduk di suatu tempat makan dan salah satu anak nangis karena tidak sabar mau makan dan satunya lagi nangis karena tidak mau duduk. Akhirnya memang membiarkan anak yang tidak mau duduk itu nangis dalam pelukan (tentunya sebelumnya sudah dijelaskan kalau sekarang duduk dulu untuk makan). Nah biasanya itu akan banyak pandangan-pandangan yang mungkin menurut mereka kita mengganggu kenyamanan ya. Tetapi ya mau bagaimana, namanya anak-anak balita yang masih belajar. Dalam hati “biasa aja kali liatnya” :p. Kalau dulu belum punya anak mungkin tatapan saya akan begitu juga kali ya? Setelah punya anak dan mengalami situasi itu sendiri, sayapun lebih bisa memaklumi ketika melihat ada anak yang nangis atau tantrum di mall karena tidak memperoleh apa yang mereka inginkan.

Lama-lama memang akan terbiasa dan akan jauh lebih bisa mengatasi kondisi-kondisi yang muncul. Practice makes perfect! Yup, dan setelah terbiasa malah saya merasa 2 bocah ini jauh lebih bisa menahan diri dan tidak rewel ketika pergi bertigaan saja ๐Ÿ™‚

image

Bocah temani mama ketemu teman-teman sekolah (Photo credit: Stephanie)

image

Yang ini gantian adek yang difoto (Photo credit: Stephanie)

Pergi bertiga dengan 2 balita tanpa bantuan? Tetap bisa enjoy dan have fun dong pastinya ๐Ÿ˜‰

image

Tagged , ,

Belajar Agar Berguna di Hari Tua (Part 1)

Setelah update kegiatan sedikit di blog baru terasa kangen rutinitas menulis setiap hari ya. Memang sejak September, kami keluar dari rutinitas kami sehari-hari dan berangkat ke Jakarta. Ngapain? Selain liburan panjang, Mikado menemani saya menimba ilmu.

***
Pelatihan Konselor Menyusui

Mungkin sebagian pembaca setia mikadoproject ini (pede bangets) tahu bahwa saya aktif di AIMI Kaltim. Organisasi nirlaba berbasis kelompok sesama ibu menyusui dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, informasi tentang ASI & prosentase ibu menyusui di Indonesia. Sudah beberapa tahun terakhir memang memiliki keinginan untuk mengikuti pelatihan konselor menyusui dan sempat maju mundur karena berbagai hal. Akhirnya datanglah kesempatan untuk ikut pelatihan tersebut 15-19 September yang lalu. Memang Tuhan memberikan kesempatan tepat pada waktunya ya. Kebetulan suami juga bisa cuti.

Sungguh pelatihan ini bermanfaat tidak hanya dalam dunia perASIan tetapi juga dapat digunakan sehari-hari dengan anak di rumah. Benar-benar refreshment pengetahuan saya karena teknik konseling yang digunakan kurang lebih mirip dengan apa yang pernah saya dapat sewaktu mengajar di salah satu sekolah yang berbasis Active Learning.

Jadi setelah mengikuti pelatihan konselor menyusui tersebut sekarang mengemban tugas sebagai konselor menyusui. Semoga selain dapat berkontribusi dalam meningkatkan prosentase menyusui di Indonesia (kaltim khususnya), pengetahuan yang diperoleh ini dapat berguna bagi diri dan orang lain terutama untuk di hari tua nanti.

image

Bersama para fasilitator dan peserta pelatihan lainnya

Tagged ,

Belajar Calistung

Eits… Kok belajar calistung? Katanya tidak boleh mengajarkan calistung? Boleh aja kok selama tidak dipaksakan. Lagipula setiap stimulasi yang diberikan kepada anak bisa jadi merupakan dasar dari pembelajaran membaca, menulis dan berhitung (calistung) nantinya. Tentunya perkembangan anak itu tidak serta merta hanya calistung. Entah kenapa banyak yang menilai perkembangan anak pada sisi akademis saja. Padahal banyak sekali aspek lain yang jauh lebih penting untuk anak. Mungkin karena calistung dapat dinilai ya? (edisi sok tau).

Proses belajar calistung diawali dengan konsep dasar calistung itu sendiri. Pada tulisan ini saya hanya ingin berbagi pengalaman yang kami terapkan untuk anak-anak di rumah.

Membaca
Awal perkenalan membaca adalah dengan memperkenalkan buku kepada anak-anak. Membaca disini bukan langsung membaca atau menghafal huruf ya. Proses membaca yang kami terapkan pada anak-anak awalnya adalah mengenalkan buku bergambar kepada anak. Buku yang kami kenalkan memiliki kata-kata atau kalimat yang seminimal mungkin (atau kadang hanya ada gambar saja). Lalu kami juga memperkenalkan simbol-simbol yang kami temukan pada keseharian kami. Dari aktivitas tersebut anak juga dapat belajar mengenal warna. Saat ini anak pertama kami (30 bulan) masih pada tahap perkenalan kata-kata melalui gambar dan memperkenalkan kata-kata dengan awalan yang sama (contoh: mama… makan… monyet). Sesekali ia diperkenalkan huruf-huruf alfabet sambil bermain. Seperti aktivitas bermain huruf magnet berikut ini:

image

image

image

Menyusun huruf secara acak.

Menulis
Kalau boleh jujur sampai saat ini anak pertama kami belum terlalu berminat dalam kegiatan ini. Tetapi bukan berarti ia tidak di stimulasi. Kami yakin pada saat ia siap untuk menulis (memegang alat tulis), maka ia akan bisa (kapanpun itu). Untuk saat ini yang kami lakukan adalah melatih motoriknya agar siap untuk menulis. Aktivitas motorik halus yang ia sukai saat ini adalah bermain playdough.

image

Berhitung
Sampai saat ini kami belum terlalu memperkenalkan angka kepada anak-anak. Yang kami perkenalkan adalah berhitung dengan benda melalui permainan atau aktivitas sehari-hari. Kami pun yakin berhitung itu bukan sekedar menyebutkan angka karena anak perlu mengerti konsep dasar berhitung itu sendiri. Setiap angka yang ia ucapkan mewakili satu benda. Jadi setiap kali kami berhitung, kami akan menunjuk pada benda atau dengan menggunakan jari. Dan dapat kami simpulkan Mikha baru sampai tahap menyebut angka. Sedangkan untuk berhitung itu sendiri (berhitung dengan menunjuk benda yang dihitung) baru sampai 3 atau 4, karena setelah itu ia akan menunjuk secara random. Kalau menyebut angka sudah lulus lah angka wajib (1-10). Hehe… Aktivitas berhitung ini sering diselipkan di setiap kegiatan yang kami lakukan antara lain: saat bermain mobil-mobilan kami menghitung banyak mobilnya, rodanya dan lain sebagainya.

image

Seperti itulah cara kami belajar calistung. Semua aktivitas merupakan hands-on atau yang dapat dipegang anak. Jadi amat jarang (bahkan tidak pernah) melakukan aktivitas worksheet, karena kami yakin usia anak-anak kami sekarang lebih mudah belajar melalui aktivitas yang melibatkan seluruh panca inderanya.

Tagged

Saat Anak Bermain Independen

Ada saatnya dimana kami bosan dengan kegiatan yang terstruktur (baca: saya lagi malas menyiapkan bahan atau kegiatan), yang saya lakukan adalah membiarkan anak beraktivitas dengan kegiatan pilihannya dan mengarahkan mereka ke kegiatan independen. Pada saat itulah saya dapat lebih fokus mengobservasi apa yang sedang diminati anak-anak. Bonusnya waktu santai yang lebih panjang. Hehe…

Dari 3 hari observasi yang kami lakukan terlihat bahwa kegiatan favorit anak-anak masih seputar mainan yang memiliki roda dan yang baru adalah tutup botol ๐Ÿ™‚ Dalam waktu tersebut pula terlihat semakin terbiasa kakak-adik ini bermain bersama, serta semakin besar kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah karena saling berebut mainan. Sayapun lebih banyak hanya mengamati dan “nimbrung” ketika diajak (karena beberapa kali Mikha minta saya duduk saja).

image

image

image

image

Jadi meskipun terlihat hanya bermain-main, tetap ada yang dapat dipelajari ya. Dari hasil beberapa hari observasi diharapkan kegiatan-kegiatan selanjutnya lebih fokus lagi terhadap minat dan ketertarikan anak.

Tagged ,

Jangan Bosan Memperkenalkan Aktivitas Baru Kepada Anak

Sewaktu saya mengajar di early childhood education program dulu, seringkali orang tua bercerita bahwa yang dimainkan anaknya “itu-itu” saja. Well memang anak kecil itu ketika menemukan suatu benda atau permainan yang ia suka maka ia akan selalu kembali pada benda atau permainan tersebut sampai ia merasa ada hal/benda lain yang menarik baginya.

Lalu apakah lantas kita selalu mengikuti minatnya saja? Apakah kami sebagai orang tua menganggap minat anak sekarang akan menjadi bakat bila diasah? Kedua anak kami masih berusia 30 bulan dan 12 bulan (hampir). Kegemarannya dalam bermain mobil-mobilan tidak kami anggap sebagai bakat dalam bidang otomotif nantinya, atau kesukaannya bermain bola tidak berarti bakatnya nanti sebagai pemain bola atau aksi panjat yang kerap kali membuat kami jantungan membuat kami menyimpulkan bakatnya adalah atlit panjat. Ya, memang masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan karena usia mereka yang masih 30 bulan & 12 bulan belum terekspos dengan berbagai macam kegiatan.

Lalu bagaimana agar anak terekspos dan terstimulasi di bidang lain ketika apa yang ia mainkan hanya “itu-itu” saja? Sebagai orang tua harus cermat mengamati (ini kami pun masih tahap pembelajaran), kreatif dan pintar-pintar cari cara mengembangkan permainan anak (terima kasih dunia maya). Saya sempat menulis tentang “Mengembangkan Permainan Anak” di blog ini. Kurang lebih tulisan ini melanjutkan topik yang pernah saya share pada tulisan tersebut.

Sebagai contoh, ada 2 mainan yang disukai oleh Mikha. Mobil-mobilan dan bola. Terlihat sekali ketika ia bermain dengan bola atau mobil-mobilan, ia akan mampu bertahan cukup lama dan bermain independen dengan dua benda tersebut.

Banyak sekali permainan yang dapat dikembangkan dengan menggunakan mainan mobil-mobilan. Kami cukup sering bermain dengan tema “mobil-mobilan” dan sering pula menyelipkan mainan mobil pada saat memperkenalkan aktivitas baru. Kegiatan yang pernah kami lakukan, antara lain pernah saya tulis di blog ini seperti:

Satu-satu
Earth Week: Mobil Kardus
Kancing Besar, Sedang dan Kecil
Mobilnya Masuk Bengkel
Sensory Play: Bermain Salju
Brr… Dingin

Begitu pula dengan aktivitas menggunakan bola. Ketika mendengar kata “bola” maka yang terlintas dalam pikiran pasti kegiatan yang berhubungan dengan motorik kasar. Namun sebenarnya bola dapat juga digunakan untuk kegiatan yang lebih “kalem”. Beberapa kegiatan yang pernah kami lakukan dengan menggunakan bola antara lain:

Main Air Yuk
Membuat Bola Kertas
Sensory Play: Bola Merah, Bola Hijau
Mana Bolanya Ya?

Ada pula kegiatan yang kami lakukan hasil penggabungan dari dua mainan favorit anak-anak. Sebelumnya Mikha sempat minta ijin untuk bermain dengan kelereng dan tidak disangka ia memanfaatkan kotak baju (yang sudah beberapa minggu belum dibereskan *keplak diri*) dan menggelindingkan kelerengnya di tutup boks baju tersebut. Sayapun akhirnya mengembangkan permainannya dengan menambahkan beberapa atribut untuk bermain.

Bahan:

image

"gawang" dari kotak bekas, mobil-mobilan, bola kecil (atau kelereng), dan tentunya di atas tutup boks seperti di gambar.

Kegiatan:
Karena awalnya ini merupakan kegiatan anak, maka Mikha pun langsung saja seru bermain sendiri ๐Ÿ˜€

image

Lama-lama sadar kalau menyentil (apa bahasanya ya?) atau mendorong kelerengnya tidak boleh terlalu keras atau terlalu pelan.

image

Berinisiatif mengambil mobil-mobilan lain dan melanjutkan pretend play

image

Adek bangun dan ikutan eksplorasi (mengacak-acak)

image

Kesempatan untuk berkolaborasi dalam bermain (dalam hal ini abang menuntun adek).

Yang dapat dipelajari:
– Motorik halus: mengatur kekuatan tangan dan jari.
– Bahasa: kosakata, bercerita
– Warna, berhitung
– Bermain bersama (collaborative play).
– Menstimulasi inisiatif dan kreatifitas anak.
– Bermain secara independen.

Kami juga saat ini sedang tahap mengenalkan sebanyak-banyak aktivitas kepada kedua anak kami. Termasuk aktivitas yang menggunakan alat tulis yang belum terlalu dilirik oleh Mikha karena minatnya masih dominan di kegiatan motorik kasar, musik dan mobil-mobilan.

Jadi, jangan pernah bosan untuk mengajak anak mencoba aktivitas-aktivitas yang beragam ya ๐Ÿ™‚

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan pengalaman selama mengajar dan diterapkan bagi kedua anak kami yang ternyata cukup efektif untuk keseharian kami.

Tagged , , , , , ,