Pregnancy Blues 

Kehamilan merupakan suatu momen bahagia bagi setiap pasangan suami isteri. Namun tidak jarang peristiwa tersebut sekaligus menjadi momen yang penuh kekhawatiran terutama bagi wanita yang menjalaninya secara langsung. Selama ini mungkin kita sudah sering mendengar istilah Baby Blues. Depresi yang dialami ibu paska melahirkan. Bila tidak ditangani dengan tepat maka dapat menjadi depresi lanjut yang lebih berat Post Partum Syndrome (PPD).

Setelah melahirkan anak ke-3 saya baru mengetahui istilah Pregnancy Blues. Depresi yang dialami ibu selama kehamilan. Ibu hamil memang rentan terhadap depresi karena faktor perubahan hormon, tetapi biasanya dianggap wajar sehingga tidak ada penanganan secara khusus. Terlebih bila yang mengalami Pregnancy Blues bercerita kepada orang yang tidak mengalami atau tidak paham, bisa-bisa dianggap berlebihan.

Menurut situs Baby Center, Pregnancy Blues dapat dialami ibu hamil karena beberapa faktor diantaranya:

– Memiliki riwayat depresi dalam keluarga.

– Mengalami perubahan drastis atau mendadak dalam kehidupan sehari-hari.

– Merasa kesepian karena jauh dari pasangan ataupun keluarga.

– Mengalami masalah kehamilan seperti mual berlebih.

– Pernah mengalami masalah dalam kehamilan sebelumnya atau keguguran.

– Pernah mengalami kekerasan verbal atau fisik sebelumnya.

Bagaimana cara mengatasinya? Kembali menurut Baby Center, ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain;

– Berusaha untuk santai dan relaks menghadapi kehamilan

– Berkeluh kesah dan bercerita dengan pasangan mengenai kondisi apapun.

– Bentuk kelompok dukungan (support group)

Relaksasi atau meditasi

– Makan sehat

– Olahraga rutin

– Memberikan kesempatan untuk menyenangkan diri sendiri

– Konsultasi atau terapi.

Pada kehamilan ke-4 saya kemarin bisa dikatakan cukup berbekal dalam menghadapi kehamilan. Lagian sudah kehamilan ke-4 lho. Masa sih tidak siap? Tidak mungkin juga mengalami depresi, saya pikir. Ternyata salah besar! Sayapun baru kemudian menyadari hal tersebut setelah lahiran.

Kehamilan ke-4 saya cukup penuh drama. Hamil tidak lama setelah keguguran, hamil bersamaan dengan momen pindahan. Antara senang dan takut. Senang karena diberi kepercayaan kembali untuk hamil. Takut akan kembali keguguran dan takut menjalankan kehamilan jauh dari suami. 

Selang beberapa waktu setelah mengetahui hamil, masih merasa takut karena beberapa kali flek. Saat itu belum kami periksakan ke dokter karena sudah mau pindah. Kami baru memeriksakan kehamilan saat kami sampai di Jakarta. Begitu leganya ketika melihat denyut jantung janin yang berdetak. Pesan dokter adalah berhati-hati karena letak plasenta masih di bawah. 

Bulan berikutnya periksa kehamilan, kondisi sehat dengan posisi plasenta yang mulai bergerak naik. Sudah tidak ada flek. Mual-mual datang saat malam ketika salah makan. Saya percaya diri dan merasa siap menjalankan kehamilan walau harus jauh dari suami.

Masuk trimester 2, muncul kembali flek coklat. Tidak tahan antrean dokter sebelumnya, saya berganti dokter lain. Entah kenapa secara random saya memilih dokter wanita yang sama sekali belum pernah mendengar nama atau track record nya. Saat konsultasi dan USG, flek disebabkan oleh plasenta yang masih stengah menutup jalan lahir.

Saya yang saat itu masih proses menyapih anak ke-2, merasa galau menghadapi kehamilan itu. Apa yang saya alami selalu saya konsultasikan kepada suami. Terus menerus suami menguatkan saya. Pada saat bercerita saya merasa lega. Namun ada saat-saat dimana saya bisa menangis tanpa sebab. Padahal sebelumnya saya tidak merasa sedih, bahkan habis bersenang-senang. 

Flek datang dan pergi. Sampai suatu Sabtu tiba-tiba ada flek cukup banyak sampai ada bongkahan. Saya berusaha tenang langsung mengirimi pesan kepada obsgyn dan beliau menyarankan saya ke RS tempat beliau praktik. Tanpa memperlihatkan rasa panik, saya mengabari suami yang masih di site. Keluar kamar mengabari mama saya dan minta kakak saya untuk mengantarkan ke RS. Saat bersamaan saya juga mengirimkan pesan kepada teman saya yang sekaligus juga doula, @mamakreatips. Beberapa jam diobservasi di ruang bersalin. Tidak ada kontraksi, semua aman. Sayapun kembali pulang.

Puncak drama kehamilan saya adalah ketika saya merasakan tekanan yang besar sehingga membuat saya membawa dua anak dan tas lalu pergi. Entah pergi kemana karena saat itu hanya ingin pergi saja.

Bersyukur saya memiliki suami yang selalu mendukung dan sabar dengan saya. Diberikan teman yang mau menampung keresahan saya serta obsgyn yang selalu dapat menenangkan saya. Kalau dipikir kembali jadi ingin tertawa. Hahahaha… Bagaimana tidak? Drama di siang hari bawa tas dan 2 anak jalan keluar sampai dikejar suami. Sepertinya ada tukang nasi goreng yang menyaksikan drama itu *tutup muka*

Semua pertolongan datang pada waktunya. Baru saja beberapa hari yang lalu saya cerita ke teman-teman Parenting and Breastfeeding Support Group, dan reaksi mereka banyak yang “Wiena bisa nangis dan drama juga?”. Bisa! Padahal sudah menjalankan semua yang disebutkan di atas agar terhindari dari Pregnancy Blues.

Maju mundur menuliskan cerita ini di blog. Malu? Iya, kalau diingat peristiwanya. Namun tidak ada maksud lain dari tulisan ini, saya hanya ingin orang tahu bahwa saat-saat kehamilan dan melahirkan adalah kondisi yang rentan bagi setiap ibu. Seseorang yang terlihat kuat (seperti saya *pede) belum tentu terhindar dari yang namanya Pregnancy Blues atau Baby Blues. Jadi bagi para ayah, calon ayah, keluarga, kerabat dan semuanya, lebih pekalah terhadap seorang ibu hamil dan ibu baru melahirkan. Dan bagi semua ibu dan calon ibu, janganlah berhenti belajar. Berdayakanlah diri untuk mencari informasi dan belajar dari siapapun dan dimanapun. Karena kehamilan dan menjadi ibu itu sesungguhnya memerlukan persiapan.

Salam dari bayi yang murah senyum. Terima kasih ya dek sudah bersabar dengan mama selama di perut. (pic credit @papakun)

Tagged , , , , , ,

8 thoughts on “Pregnancy Blues 

  1. echaimutenan says:

    aku mba skrg ngalami preg blues :”)
    ga tau kenapa labil apalagi masuk TM 3 ini. smkin dekat lahiran smkin berasa takut kehilangan dimana aku selalu tiduran dan g bisa ngasuh raffi kek biasanya huhu. sedih banget rasanya.

  2. Windy says:

    You should be a doula too Wien..hahaha hats off

  3. Lanny Sari says:

    PPD memang ga kenal pernah hamil / lahiran atau gak ya Mba. Terimakasih sudah sharing ini. Jadi banyak yang aware soal PPD.

  4. wulanwahyudi says:

    Mba wiena, lama gak mampir kesini. Selamat ya atas kelahiran baby nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: