Pentingnya Komunikasi

Saya hamil lagi ketika anak pertama saya, Mikha berusia 10 bulan. Memang kami tidak merencanakannya tapi kami juga tidak menganggap itu ‘kebobolan’, karena kami meyakini bahwa Tuhan memberi pada saat kami siap. Tapi memang pada saat itu sempat beberapa kali pembicaraan mengenai adik dan kami pun tidak merasa kaget ketika testpack menunjukkan dua garis merah🙂

Namanya kehamilan tidak terencana, rasa deg-deg an pasti ada. Pada saat itu saya masih menyusui Mikha jadi muncul kekhawatiran harus berhenti ASI. Namun ternyata sampai sehari sebelum melahirkan Mikha masih bisa menyusu. Tantangan terbesar kami adalah mempersiapkan Mikha untuk menyambut adiknya dan melatih kemandiriannya dengan kondisi 24 jam sehari, 7 hari seminggu hanya dengan saya (dan suami selepas kerja) tanpa ada orang lain di rumah (kami tinggal di daerah, jauh dari keluarga & tanpa ART).

Setiap hari kami terus mengulang bahwa ia akan punya adik dan saya akan menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Setiap hari pula Mikha kami ajak untuk mengamati perubahan perut saya (dengan terus mengatakan kalau adik ada di dalam). Pada saat saya sudah merasakan gerakan janin sayapun mengajak Mikha untuk mendengar (dengan menempelkan telinga ke perut saya) dan berkomunikasi dengan calon adiknya. Intinya kami berusaha melibatkan Mikha dalam persiapan menyambut adiknya. Kehamilan saya juga membuat Mikha semakin dekat dengan papanya.

Dengan intens melakukan komunikasi dan memperbanyak waktu berkualitas dengan papa, kami berharap Mikha siap untuk menyambut adiknya. Jujur saja waktu itu kami tidak tau apa yang akan terjadi. Apa Mikha akan cemburu, menangis terus atau apa. Kami hanya pasrah dan menjalankan yang kami rasa baik untuk dirinya. Dan hasilnya dapat dilihat di foto-foto berikut🙂

image

Mikha bermain pura-pura memberi makan dan menyayangi boneka koalanya.

image

Kata Mikha : "Adek asyang (sayang)"

image

Mau memandikan adik ceritanya.

image

Berusaha menenangkan adik.

Kami tidak menyangka hasil komunikasi intens sejak Mikha berusia 10 bulan (saat saya mengetahui kalau saya hamil) berbuah hasil seperti itu. Tapi jangan salah, ada juga saat-saat ‘error’ dimana abang dan adik lomba nangis. Tapi saya rasa itu hal yang wajar🙂

image

Lagi marah sama adik.

image

Gangguin adik.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menyampaikan bahwa pentingnya komunikasi orang tua dan anak. Meskipun anak belum bisa berbicara bukan berarti ia tidak memahami perkataan kita. Komunikasi dua arah, dimana selain berbicara orang tua juga mendengarkan (memahami) perasaan anak (acknowledge feelings) walau ia belum dapat menyampaikan dengan baik. Hal ini seringkali saya dan suami lupakan. PR buat kami berdua untuk lebih sabar menghadapi titipan Tuhan.

image

Momen damai bagi saya🙂

image

Foto pertama bersama-sama di handphone saya

Tagged , ,

4 thoughts on “Pentingnya Komunikasi

  1. so sweet banget🙂 keren mikha bisa mengerti bagaimana sayang adeknya🙂

  2. upiw says:

    Wien… itu Mikha kalo bobo ga glundungan ya? Bisa dibarengin gitu sama Deo sekasur.. hebat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: